Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat menerima aspirasi pemilik usaha di Jalan Deandels. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews id – Puluhan warga dari mayoritas pelaku usaha yang beroperasi di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) atau dikenal dengan Jalan Daendels mengadu ke Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, Rabu (4/4/2018). Mereka memprotes penutupan akses jalan tersebut yang membuat omsetnya menurun drastis.

Koordinator Pelaku Usaha Jalan Daendels, Amin Nurohman mengatakan, ada sekitar 21 warga yang datang ke Pemkab Kulonprogo. Mereka terdiri atas pemilik usaha warung makan, bengkel, tambal ban, hingga warung kelontong, dan penjual pulsa, serta pengelola SPBU.

Dalam pengaduannya, mereka mengeluhkan kebijakan penutupan Jalan Deandles, sebagai imbas pembangunan proyek Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Saat ini, keberadaan usaha mereka mati suri, karena sepinya pembeli.

"Kami minta jalan kembali di buka, karena kondisi perekonomian kami turun drastis. Omset kami turun hingga 20 persen, pembeli saat ini hanya warga sekitar saja,” kata Amin.

Dia menilai, alasan penutupan jalan dengan akan dimulainya proyek fisik tidaklah beralasan. Semenjak jalan ditutup, pekerjaan fisik belum juga dimulai. Untuk itulah warga ingin jalan kembali untuk kesinambungan usaha mereka. "Kami hanya pengusaha kecil, usahanya hanya dari situ," ujarnya.

Menurut dia, warga yang membuka usaha ini sebenarnya merupakan pendukung pembangunan proyek bandara. Bahkan ada yang baru saja mamebuka usaha kuliner setelah mendapatkan pelatihan usaha dari bandara. Tetapi mereka mengaku butuh solusi atas dampak kebijakan tersebut. "Kami yakin pemkab akan mampu memberikan solusi," ucapnya.

Senada disampaikan seorang pemilik warga makan, Budi Raharjo. Dia mengatakan, usaha kuliner yang dikelola warga sangatlah terdampak. Seperti mie ayam, hanya warga sekitar saja yang beli. Begitu juga rumah makan, dan toko kelontong. Mereka juga tidak bisa menyuplai kebutuhan makanan bagi pekerja proyek, karena mereka sudah memiliki jaringan catering sendiri.

“Pendapatan kami sudah habis, sedangkan kebutuhan tetap sama. Bahkan ada yang harus bayar cicilan utang di bank,” tuturnya.

Paiman, warga yang lain, mengaku paling mendapatkan dampaknya. Pria ini membuka usaha jasa tambal ban. Namun semenjak jalan di tutup. Berhentilah usahanya itu. Jangankan ada yang menambal, yang lewat saja tidak ada. "Kalau tidak ada yang melintas bagaimana mau nambal ban,” ucapnya.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo yang menemui warga berjanji untuk merespons dan menindaklanjuti atas keluhan tersebut. Termasuk upaya solusi dan alternatif dalam menyelesaikan masalah yang muncul. Untuk itulah masalah hal itu akan diteruskan kepada PT Angkasa Pura I dan Pemerintah Provinsi DIY.

"Kami akan koordinasi dengan mereka, untuk mencari solusi," kata Hasto, didampingi Plt Setda Djoko Kushermanto.

Hasto juga mengapresiasi langkah warga yang datang menemuinya di Pemkab Kulonprogo. Cara itu dirasakan paling tepat dibandingkan mengadu kesana-kemari. Sebab isu bandara sangat sensitif dan bisa menjadi tidak karuan ketika mengadu ke pihak lain. "Secepatnya Kami akan bertemu dan memberikan jawaban," ujarnya.

Diketahui, penutupan JJLS ini mulai diberlakukan sejak 26 Maret 2018. Penutupan jalan dilakukan oleh Dinas Perhubungan bersama dengan Pemkab Kulonprogo dan kepolisian. Jalan yang ditutup merupakan jalan menuju ke lokasi bandara dari Desa Glagah sampai Jangkaran sejauh 7 kilometer. Arus lalu lintas yang biasa melintas di jalur itu dialihkan ke utara menggunakan jalan nasional.


Editor : Donald Karouw

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network