10 Tahun Dipasung, Pengidap Gangguan Jiwa asal Kulonprogo Dibebaskan

Budi Utomo · Rabu, 15 Agustus 2018 - 13:28:00 WIB
10 Tahun Dipasung, Pengidap Gangguan Jiwa asal Kulonprogo Dibebaskan
Petugas gabungan saat dalam proses membebaskan Sardi dari kurungan yang dibuat keluarganya di Kulonprogo. (Foto: iNews/Budi Utomo)

KULONPROGO, iNews.id – Tindakan pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa masih ditemui di Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal ini seakan menjadi potret nyata kemiskinan yang masih terjadi di negeri ini.

Pemasungan ini dialami seorang lelaki paruh baya bernama Sardi (54) yang mengidap gangguan jiwa. Dia dipasung selama 10 tahun oleh keluarganya di daerah Dukuh Kriyan, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo.

Sardi akhirnya dibebaskan petugas gabungan dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP3A) Kulonprogo, Polri, dan perangkat desa setempat, Rabu (15/8/2018). Selanjutnya, Sardi dibawa untuk diantarkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di wilayah Sleman.

Pantauan iNews di lokasi, Sardi dikurung dalam ruangan khusus. Dia ditempatkan dalam ruangan berukuran 4x4 di belakang rumah berpintu besi yang selalu dalam keadaan tergembok mirip penjara. Ruangannya berhadapan dengan kandang ternak dan sudah dilengkapi toilet.

Tampak terdapat lubang persegi kecil di bagian tembok depan sebagai akses bagi keluarga untuk memberi asupan makanan dan minuman bagi Sardi. Kurungan itu dibuat secara bergotong royong oleh masyarakat setempat dan sudah 10 tahun Sardi mendekam ditempat tak layak tersebut.

Dalam rumahnya, terdapat istri Sardi yang bekerja sebagai buruh tani dan anak bungsu. Sementara dua anak tertua lainnya telah merantau sebagai buruh di Jakarta. Pihak keluarga mengungkapkan, pemasungan itu terpaksa dilakukan lantaran Sardi dianggap meresahkan dan membahayakan keselamatan keluarga dan warga setempat. Jika sedang kambuh dan tersulut emosi, dia kerap mengamuk dan tak segan melakukan tindak kekerasan fisik kepada orang lain. Di samping itu, pihak keluarga tak punya cukup dana untuk biaya pengobatan dan perawatan Sardi ke rumah sakit.


Kepala Seksi Rehab Sosial Dinsos P3A Kulonprogo Wahyu Budi Arto mengatakan, Sardi akan dibawa ke RSJ Grhasia Sleman. Setelah itu dia akan dirujuk untuk perawatan intensif pascamedis di Panti Bina Laras selama 12 bulan ke depan dengan pendampingan para ahli kejiwaan. Dengan begitu, diharapkan kondisi kesehatan lelaki tersebut bisa membaik.

“Di sana dia akan didamping ahli kejiwaan, diberikan obat dan berharap kondisinya bisa membaik,” kata Wahyu, Rabu (15/8/2018).

Kepala Desa Banjararum Warudi mengatakan, insiatif pengurungan ini karena Sardi dianggap membahayakan. Paling utama yakni istri dan anaknya. “Kalau lagi sadar yang seperti orang normal pada umumnya. Tapi kalau lagi mengamuk bisa membahayakan, khususnya bagi istri dan anaknya,” ujar Wardui.

Ketua RW setempat Suprapto mengungkapkan, gelagat gangguan kejiwaan Sardi mulai tampak sepulangnya dari merantau di Batam sekitar tahun 2001. Sardi kehilangan pekerjaan setelah terlibat kecelakaan lalu lintas yang membuatnya terluka dan kemudian memutuskan pulang ke kampung halaman. “Begitu pulang jadi seperti itu, mungkin stress karena tidak ada penghasilan dan tekanan ekonomi,” ucapnya.

Sardi berubah menjadi sering melamun. Emosinya labil dan ia kerap marah-marah tanpa sebab yang jelas. Tak hanya itu, dia bahkan berulah mengambil hasil kebun tetangga dan diakunya sebagai hak milik. Selama ini, Sardi sudah tujuh kali dibawa berobat ke RSJ Grhasia, Sleman, tapi kondisinya belum menunjukkan perubahan.

Tindakan evakuasi ini dilakukan mengingat Provinsi DIY sudah mencanangkan bebas pasung pada 2019 mendatang, sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 81 Tahun 2012. Dia menjadi orang kedua di Kulonprogo yang dibebaskan dari belenggu pasung pada tahun 2018 ini.

Editor : Donald Karouw