61 Hari Tanpa Hujan, 4 Kabupaten di DIY Berstatus Awas dan Siaga Kekeringan
YOGYAKARTA, iNews.id - Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengeluarkan status Awas dan Siaga terhadap kekeringan yang terjadi di wilayah DIY.
Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Etik Setyaningrum mengatakan, status Awas ditetapkan dengan mendasarkan pada Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 61 hari dan prospek curah hujan rendah kurang dari 10 mm per 10 hari.
“Kami rutin melakukan pantauan terhadap kondisi cuaca di wilayah DIY. Hasilnya, beberapa wilayah curah hujannya rendah. Bahkan ada wilayah yang sudah tidak ada hujan selama dua bulan terakhir,” katanya, Rabu (3/7/2019).
Dia menyebutkan, status Awas ini terjadi di Kabupaten Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo. Di Kabupaten Bantul meliputi Kecamatan Kasihan, Jetis, Imogiri, Pajangan, Pandak, Bantul, Sewon, Banguntapan dan Piyungan.
Sedangkan di Kabupaten Gunungkidul meliputi Kecamatan Tanjungsari, Paliyan, Girisubo, Rongkop, Karangmojo, Ponjong, Wonosari, Saptosari, Semanu, dan Tepus.
Di Kabupaten Kulonprogo hanya ada satu kecamatan berstatus Awas, yakni, Panjatan. “Di wilayah awas ini hujan sudah kebih dari 61 hari dan prospek curah hujannya rendah,” kata Etik.
Sedangkan untuk status Siaga, kata Etik, mendasarkan pada hari tanpa hujan lebih dari 31 hari dan prospek hujan kurang dari 10 mm per 10 hari. Hal ini terjadi di empat kabupaten meliputi Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul dan Sleman.
Di Kabupaten Bantul ada delapan daerah berstatus Siaga kekeringan, yakni Pleret, Piyungan, Bambanglipuro, Pundong, Dlingo, Kretek, Kasihan dan Sedayu. Kabupaten Sleman ada 16 kecamatan antara lain, Berbah, Prambanan, Ngemplak, Cangkringan, Seyegan, Moyudan, Minggir, Kalasan, Ngemplak, Pakem, Depok, Gamping, Turi, Godean, Sleman, dan Ngaglik.
Sedangkan di Kulonprogo, daerah berstatus Siaga meliputi Kokap, Pengasih dan Girimulyo). Sementara di Gunungkidul ada tujuh kecamatan, yakni Patuk, Purwosari, Ngawen, Nglipar, Playen dan Semin.
"Dari monitoring terhadap perkembangan musim kemarau menunjukkan seluruh DIY sudah memasuki musim kemarau dan secara periodik menguat setiap bulannya," ujarnya.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau pada Agustus nanti. Sedangkan curah hujan untuk tiga bulan ke depan Juli, Agustus sampai September berkisar antara 0 sampai 10 mm per bulan, atau kriterianya rendah.
Pantauan BMKG dan beberapa lembaga internasional terhadap kejadian anomali iklim global di Samudera Pasifik, tambah Etik, menunjukkan kondisi El Nino Lemah. Sedangkan Anomali SST di wilayah Samudera Hindia menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga Oktober November Desember (OND) 2019.
Karena itu, masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap kekeringan. Kondisi ini bisa berdampak terjadap sektor pertanian dengan sistem tadah hujan. Kekeringa juga akan menyebabkan pengurangan ketersediaan air tanah (kelangkaan air bersih). "Dampaknya juga bisa meningkatan potensi kemudahan terjadinya kebakaran," ucap Etik.
Humas PMI DIY Warjiyani mengatakan permintaan droping dari masyarakat terus mengalami peningkatan. PMI juga telah melakukan melakukan droping sejak beberapa pekan ini. Droping air bersih dilakukan di wilayah Gedangsari, Gunungkidul sebanyak 25.000 liter. "Kita akan terus bantu masyarakat dengan droping air bersih,” katanya.
Editor: Kastolani Marzuki