Angka Stunting Turun, Pemkab Kulonprogo Terus Perkuat Komitmen Pencegahan

Kuntadi ยท Senin, 19 Agustus 2019 - 23:12:00 WIB
Angka Stunting Turun, Pemkab Kulonprogo Terus Perkuat Komitmen Pencegahan
Penandatanganan nota kesepakatan untuk mengampanyekan dan mencegagah stunting di Kulonprogo, DIY. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Angka penderita stunting di Kabupaten Kulonprogo masih cukup tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, persentase balita stunting mencapai 22,65% dari 3.157 balita.

Kendati jumlahnya cukup banyak, namun angka ini menurun dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 26,3 persen. Sementara Pemantauan Status Gizi (PSG) turun dari 16,8 persen menjadi 14,51 persen. Untuk terus menekan kasus ini, Pemkab Kulonprogo gencar kampanyekan penanganan stunting dengan menggandeng Forkompinda dan beberapa elemen lain.

Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan, perlu adanya penanganan terpadu untuk menekan kasus stunting. Pencegahan memerlukan intervensi gizi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

“Penyelenggaraan intervensi yang terpadu untuk menyasar kelompok prioritas merupakan kunci keberhasilan perbaikan gizi dan tumbuh kembang anak serta pencegahan stunting,” ujar Sutedjo saat penandatanganan nota kesepakatan untuk menekan kasus stunting bersama Forkopimda, Kepala OPD, Direktur RSUD Wates dan RS NAS, Tim Penggerak PKK, DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Kepala Puskesmas, Camat, Kepala Desa, di Aula Adhikarta komplek Pemkab Kulonprogo, Senin (19/8/2019).

Menurutnya, intervensi gizi spesifik menyasar penyebab stunting. Meliputi kecukupan asupan makanan dan gizi, pemberian makan, perawatan dan pola asuh serta pengobatan infeksi atau penyakit. Sementara intervensi gizi sensitif mencakup peningkatan akses pangan bergizi, kesadaran komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak, serta akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan.

“Kami juga menggandeng pihak swasta dalam menyasar kelompok prioritas rumah tangga di 1.000 Hari pertama kehidupan (HPK) dan masyarakat umum di lokasi prioritas,” katanya.

Sesuai keputusan Bappenas, ada 10 desa di Kulonprogo yang menjadi sasaran penanganan. Yakni di Desa Nomporejo, Tuksono, Karangsari, Sendangsari, Donomulyo, Sidoharjo, Gerbosari, Ngargosari, Pagerharjo dan Kebonharjo.

“Dengan cegah stunting, sekaligus berkontribusi dalam mempersiapkan generasi yang akan datang sebagai penerus bangsa yang sehat, cerdas, kreatif dan produktif,” ucap Sutedjo.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kulonprogo Hunik Rimawati mengatakan, hasil pendataan, dari total 3.157 balita di Kulonprogo pada 2018, masih terdapat 14,31% yang mengalami stunting.

“Kebanyakan di Kecamatan Kalibawang, Samigaluh dan Kokap sehingga perlu adanya penanganan yang lebih,” ujarnya. 

Dinkes terus berinovasi mengatasi stunting dengan fortifikasi atau penambahan zat mikro ke dalam bahan pangan tertentu untuk meningkatkan nilai gizinya. Selain itu, kasus yang muncul disebabkan pola asuh dan kurangnya asupan gizi.

“Tubuh pendek pada anak balita disebabkan karena beberapa faktor lain. Di antaranya, cacat dari lahir juga karena ada keluarga yang merokok,” tuturnya.

Editor : Donald Karouw

Bagikan Artikel: