Atap SD Tegalsari Kulonprogo Nyaris Ambruk, Keselamatan Siswa dan Guru Terancam

Kuntadi ยท Kamis, 21 November 2019 - 23:30 WIB
Atap SD Tegalsari Kulonprogo Nyaris Ambruk, Keselamatan Siswa dan Guru Terancam
Anggota DPRD Kulonprogo meninjau gedung SD Tegalsari yang nyaris ambruk. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Kondisi bangunan di SD Tegalsari di Desa Purwosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo kondisinya mengkhawatirkan. Atap bangunan sekolah itu patah dan terancam ambruk. Keselamatan guru maupun siswa pun terancam.

Untuk mencegah kejadian tidak diinginkan, pihak sekolah terpaksa menyangga dengan menggunakan bambu.

“Kuda-kudanya itu sudah patah, dan mengancam dua ruangan guru dan kelas,” kata Ketua Komisi IV DPRD Kulonprogo, Istana seusai inspeksi mendadak (sidak) di SD Tegalsari, Kamis (21/11/2019).

Pihak sekolah, kata dia terpaksa memasang tiang penyangga dengan bambu. Setidaknya ada empat tiang yang dipasang di dua ruang tersebut agar bangunan tidak ambruk.

Apalagi ruangan ini masih dipakai untuk proses pembelajaran. “Kondisinya sangat membahayakan (siswa) karena masih dipakai untuk kegiatan belajar mengajar,” kata politisi PDIP itu.

Menurut Istana, pihak sekolah sebenarnya sudah mengirimkan proposal permohonan ke dinas terkait untuk segera dilakukan perbaikan.

"Namun hampir satu tahun diajukan, proposal tersebut belum mendapatkan tanggapan. Sehingga masalah ini disikapi Dewan dengan melakukan pengecekan di lokasi," katanya.

Anggota Komisi IV DPRD Kulonprogo, Ida Ristanti mengatakan, komisinya akan berkoordinasin dengan Dinas Pendidikan agar sekolah tersebut bisa segera ditangani.

Menurutnya, sarana prasarana apendidikan harus mendapatkan prioritas dan perhatian. Jangan sampai kejadian ambruknya atap gedung di Sragen terjadi di Kulonprogo.

Karena itu, kata dia, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga harus segara bertindak untuk mengalokasikan anggaran karena sifatnya mendesak. “Keselamatan peserta didik harus diperhatikan,” ucapnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Kulonprogo Sumarsana yang dikonfirmasi melalui telepon selulernya tidak direspons.


Editor : Kastolani Marzuki