Bersama Pemulung, Eks Napiter Ikut Upacara Bendera di Areal TPST Piyungan

Kuntadi ยท Senin, 17 Agustus 2020 - 15:30:00 WIB
Bersama Pemulung, Eks Napiter Ikut Upacara Bendera di Areal TPST Piyungan
Para pemulung bersama dengan mantan napiter menggelar upacara bendera di TPST Piyungan. (foto: Istimewa)

BANTUL, iNews.id – Komunitas tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Piyungan, Bantul ikut melaksanakan upacara bendera pada Seninn (17/8/2020). Setidaknya ada lima orang mantan narapidana terorisme (napiter) yang ikut menjadi peserta upacara.

Lima orang napiter yang ikut dalam upacara ini di antaranya Muhammad In’am yang masih satu keluarga dengan Amrozi. Dia pernah ikut berperang di Moro dan ditangkap di Afganistan. Selain itu ada Saefudin yang juga ikut perang di Moro dan Afganistan, Fajar mantan teroris bom buku alias Abu Akas (Sumarno) dan Hasan yang terlibat bom Solo.

“Kami telah sadar. Kami menghormati jasa pahlawan untuk meraih kemerdekaan,” kata Muhammad In’am, usai upacara Senin (17/8/2020).

Para napiter ini, sudah menyatakan setia kepada Pancasila dan kembali kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka sadar apa yang pernah mereka lakukan merupakan dosa besar. Untuk itulah dia ingin memberikan hal yang teraik untuk bangsa.

“Kami mohon dosa-dosa kita dimaafkan,” katanya.

Di Yogyakarta, ada sekitar 100 orang mantan napiter yang tergabung dalam Yayasan Lingkar Perdamaian. Mereka ingin hidup rukun dan berdampingan dengan masyarakat. Diantara mereka ada yang menjalani profesi sebagai pedagang, peternak, petani dan usaha lain.

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Yulianto mengaku sangat terharu dengan kegiatan ini. Mereka yang terlibat adalah pemulung, dan juga mantan napiter yang telah sadar. Demi melaksanakan upacara, mereka menghentikan aktivitas di TPST Piyungan.

"Saya bangga, warga TPST Piyungan justru menunjukkan jiwa besar dan ikut upacara bendera ini." kata Yulianto.

Kehadiran mantan napiter merupakan inisiatif mereka sendiri. Polda ingin menunjukkan kepada para napiter, jika masyarakat yang penuh keterbatasan masih cinta tanah air. Mereka bisa menunjukkan rasa nasionalisme dengan menggelar upacara bendera.

“Mereka pernah melawan negara namun para napiter ini telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Mereka ingin kembali bisa diterima oleh masyarakat, bisa hidup berdampingan dengan profesi masing-masing,” katanya.


Editor : Kuntadi Kuntadi