Buka Kongres Pancasila XI, Wapres: Pancasila Jangan Hanya Slogan, tapi Dihayati

Kuntadi ยท Kamis, 15 Agustus 2019 - 16:03 WIB
Buka Kongres Pancasila XI, Wapres: Pancasila Jangan Hanya Slogan, tapi Dihayati
Wakil Presiden Jusuf Kalla Membuka Kongres Pancasila XI di Kampus UGM Yogyakarta, Kamis (15/8/2019). Wapres mengajak nilai luhur Pancasila dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.id - Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka Kongres Pancasila XI di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakara, Kamis (15/8/2019).

Di hadapan peserta, Wapres meminta agar pemahaman Pancasila harus sederhana dan tidak rumit agar masyarakat tidak bingung tentang makna Pancasila.

“Semakin sederhana pembahasan Pancasila, orang bisa semakin paham. Semakin orang paham, maka Pancasila semakin bisa dihayati,” kata Jusuf Kalla.

Wapres menjelaskan, Pancasila harus dimaknai sebagai pondasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila jangan hanya slogan atapun filsafat semata. Namun harus dimengerti, dihidupi dan dilaksanakan dalam kehidupan di masyarakat. Sebagai pondasi Pancasila harus menjadikan kokohnya rasa kebangsaan.

“Pancasila harus dimaknai sebagai pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak hanya dihafalkan,” ujarnya.

BACA JUGA: Mahfud MD: Pancasila, Dasar Ideologi yang Tepat untuk Indonesia 

Pancasila, imbuh JK, sebenarnya sangat sederhana dan tegas. Namun dalam penafsiran dan pelaksanaannya kadang berbeda-beda. Tergantung siapa yang memamaknai, menafsirkan dan melaksanakannya.

“Semoga Kongres ini menghasilkan sesuatu yang sederhana, mudah dipahami, mudah dihayati, dan mudah diukur,” ujarnya.

Kongres Pancasila XI mengambil tema “Aktualisasi Pancasila dalam Merajut Kembali Persatuan Bangsa” menegaskan tanggung jawab segenap elemen masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. 

Rektor UGM, Panut Mulyono mengatakan, penegasan ini dirasakan sangat tepat karena dalam beberapa waktu terakhir sempat diwarnai oleh rivalitas tensi tinggi dan ancaman perpecahan. Bahkan kegaduhan yang bersumber dari berita hoaks dan provokatif kerap menjadi penyebabnya.

“Perjuangan para pendahulu kita dalam menentang kolonialisme adalah demi merontokkan struktur yang membeda-bedakan warga negara, menolak struktur anti-kesetaraan dan anti-kebebasan. Sayangnya, dalam kehidupan kita hingga saat ini masih terjadi relasi kuasa yang tidak seimbang,” kata Panut Mulyono. 

Untuk mewujudkan visi bernegara dibutuhkan kemauan dan kemampuan setiap warga negara untuk bekerja sama di dalam segala ragam perbedaan yang ada. Persatuan menjadi kunci, sehingga kerja sama membangun negara menjadi sangat diperlukan.

Dalam Kongres ini, akan dipresentasikan 141 abstrak call for papers dari para peserta kongres. Sebelumnya pada Rabu (14/8/2019) Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan juga telah memberikan orasi kebangsaan.


Editor : Kastolani Marzuki