Derita Sopir Taksi Konvensional di Yogya setelah Digerus Taksi Online

Kuntadi ยท Senin, 21 Januari 2019 - 18:14:00 WIB
Derita Sopir Taksi Konvensional di Yogya setelah Digerus Taksi Online
Sopir taksi konvensional di Yogyakarta banyak yang pindah pekerjaan akibat tak mampu memenuhi setoran setelah digempur taksi online. (Foto: Dok.iNews.id)

YOGYAKARTA, iNews.id – Perkembangan teknologi dalam dunia transportasi telah menggusur keberadaan taksi konvensional di Indonesia, tak terkecuali di Kota Yogyakarta.

Banyak sopir taksi konvensional yang kini banting kemudi karena tidak mampu bertahan dengan gempuran taksi online. Gejolak itu mulai dirasakan sejak 2016 lalu, saat taksi online mulai masuk.

Sopir taksi konvensional, Waluyo mengaku sudah 12 tahun menjadi sopir taksi. Sebelum diserbu taksi online, dia selalu setor maksimal Rp300.000 per hari. Dia pun masih bisa membawa pulang uang ke rumah minimal Rp250.000 per hari.

Namun sejak ada taksi online, Waluyo hanya bisa setor Rp125.000. Itu pun pendapatan yang dibawa pulang paling banyak hanya Rp100.000.

“Belum lagi biaya perawatan dan perbaikan yang lain. Sekarang sulit setorn full, pendapatan sangat minim,” kata Daryanto dalam sharing Pengemudi Taksi Online di Yoyakarta, Senin (21/1/2019).

Sopir taksi lainnya, Daryanto menuturkan, setoran selalu dipenuhi setiap hari sekitar Rp300.000an. Dia pun masih bisa membawa pulang uang ke rumah sekitar Rp500.000an. Namun, kini hasil yang diperoleh jauh dari yang diharapkan. “Dulu kerja sehari bisa untuk dua atau tiga hari. Sekarang satu hari bekerja hanya cukup untuk sehari,” ucapnya.

Ketua Paguyuban Taksi Pataga, Sujarwo Candra mengatakan, sesuai dengan SK Gubernur, jumlah taksi yang ada di DIY ada 1.000 unit. Namun saat ini yang beraktivitas hanya sekitar 600-700 unit.

Mereka harus bersaing ketat dengan taksi online yang sejak tiga tahun belakangan menggerus pendapatan mereka. “Dulu saat krisis ekonomi hanya seperti badai. Kalau saat ini ancaman sudah seperti tsunami langsung hilang,” ujarnya.

Menurut dia, banyak operator taksi yang merugi karena tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal, bahkan ada yang menjual asetnya dengan semakin banyaknya sopir yang keluar. “Sekarang ini sulit untuk mencari penumpang juga sulit mencari pengemudi,” ucapnya.

Atas kondisi tersebut, Pataga berencana menggandeng Blue Bird melalui program Kawan Bluebird. Mereka masih sebagai pemilik dan operasioanl dikendalikan oleh Blue Bird melalui program CSR (corporate social responsibility).

Editor : Kastolani Marzuki