Epidemiolog UGM Sebut Kepatuhan Prokes Pengaruhi Gelombang Ketiga Covid-19

Priyo Setyawan · Sabtu, 23 Oktober 2021 - 14:06:00 WIB
Epidemiolog UGM Sebut Kepatuhan Prokes Pengaruhi Gelombang Ketiga Covid-19
Epidemiolog UGM sebut kepatuhan prokes pengaruhi gelombang ketiga Covid-19. (Foto: Ilustrasi/Ist)

SLEMAN, iNews.id-Pakar epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad mengatakan prediksi Indonesia akan mengalami gelombang ketiga Covid-19 pada  Desembe 2021-Januari 2022 sebuah keniscayaan. Hanya kapan terjadi dan berapa tingginya, tergantung dengan situasi yang berkembang di masyarakat.

“Mobilitas, interaksi sosial dan kepatuhan dalam implementasi 3 M (memakai masker, mencuri tangan dan menjaga jarak) di masyarakat merupakan situasi bisa memicu gelombang Covid-19 ketiga atau gelombang-gelombang berikutnya,” kata Riris dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/10/2021).

Menurutnya  Covid-19 masih terus ada dan tidak sedikit orang yang tidak memiliki kekebalan. Sementara, pada orang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19, kekebalan yang didapat pun akan menurun seiring berjalannya waktu. Jadi tidak hanya satu kali gelombang tiga lalu stop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global.

“Beberapa negara dengan cakupan vaksinasi realtif tinggi seperti Israel, Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa saat ini pun tengah berjuang kembali dengan Covid-19 akibat varian Delta,” kata Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM itu.

Riris menjelaskan saat ada varian Delta dengan tingkat penularan lebih tinggi membutuhkan cakupan imunitas yang lebih tinggi dalam populasi. Misalnya sebelum adanya varian Delta untuk mendapatkan kekebalan kelompok sekitar 70 persen populasi harus sudah divaksin.

Namun sejak adanya varian Delta, maka cakupan vaksinasi ditingkatkan menjadi 80 persen. Kondisi tersebut dengan anggapan bahwa vaksin yang diberikan memiliki efektvitas 100 persen.  Vaksinasi di Indonesia untuk bisa mencapai 80%  mensyaratkan sekitar 230 juta penduduk harus divaksin dan dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan agar bisa terwujud kekeblaan kelompok.

“Ini kan sulit, misalnya sanggup pun kekebalan kelompok hanya bertahan beberapa saat dan akan terus berkurang,” katanya.

Untuk itu,  meskipun saat ini kondisi membaik, tetapi pandemi belum usai. Sebab risiko penularan masih ada, terlebih saat adanya pelonggaran aktivitas di masyarakat, maka masyarakat tetap harus  waspada dan tidak lengah serta tetap patuh menerapkan protokol kesehatan. Sementara pemerintah memperkuat 3T yakni testing, tracing, dan treatment. 

“Saat penularan tinggi dilakukan intervensi besar-besaran dengan PPKM. Begitu terkendali aktivitas dilonggarakan karena tidak mungkin terus PPKM karena akan melumpuhkan perekonomian. Namun pelonggaran ini berisiko penularan akan meningkat lagi,” katanya.

Editor : Ainun Najib

Bagikan Artikel: