Gara-Gara Kepiting, Nelayan dan Pedagang Ikan di Bantul Jadi Tersangka

Sindonews, Ainun Najib ยท Jumat, 31 Agustus 2018 - 16:56 WIB
Gara-Gara Kepiting, Nelayan dan Pedagang Ikan di Bantul Jadi Tersangka
Kepiting besar jadi buruan nelayan karena bernilai ekonomi tinggi. (Foto: Antara)

BANTUL, iNews.id - Tri Mulyadi alias Pencik (30) yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan di Pantai Samas, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus berurusan dengan penegak hukum.

Gara-garanya pun terbilang sepele, yakni menangkap kepiting seberat 2,7 kilogram yang harganya tak sampai Rp150.000. Selain Pencik, pedagang ikan yang membeli kepiting, Supriyanto (31) juga mengalami nasib serupa.

Sebenarnya peristiwa jual beli kepiting ini sudah terjadi sekitar sebulan lalu. Keduanya baru diperiksa oleh petugas Polairud Bantul dua pekan setelah peristiwa itu. "Saya tidak tahu kalau kepiting di bawah dua ons itu tidak boleh ditangkap," tutur Pencik, Jumat (31/8/2018).

Petugas beranggapan bahwa keduanya melanggar Permen Kelautan No 56/PEMEN KP/2016 tentang Pelarangan Penangkapan atau Pengeluaran Kepiting. Meski mengaku tidak mengetahui larangan itu, keduanya saat ini harus bersiap-siap untuk menghadapi persidangan. "Saya hanya mencari nafkah untuk keluarga. Kondisi laut juga sedang sepi tangkapan. Saya benar-benar tidak tahu kalau penangkapan kepiting ini dilarang," katanya.

Setelah keduanya ditetapkan tersangka, nelayan di pesisir selatan Bantul itu pun bergejolak. Mereka menilai polisi tebang pilih. Menurut mereka, aksi penambangan pasir liar di pinggir Sungai Opak dibiarkan. Padahal penambangan pasir ini jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Markas Polairud. "Itu yang penambang pasir kok dibiarkan saja," kata Sadino, tokoh warga Samas.

Beredar kabar warga akan melakukan aksi memprotes tindakan polisi ini. Mereka juga akan mengembalikan pelampung dan seragam pemberian polisi yang bertuliskan "Mitra Polisi Perairan".


Editor : Kastolani Marzuki