Gunungkidul Catat 878 Kasus DBD selama 6 Bulan

Antara · Rabu, 24 Juni 2020 - 10:25 WIB
Gunungkidul Catat 878 Kasus DBD selama 6 Bulan
Ilustrasi DBD. (Foto: Okezone)

GUNUNGKIDUL, iNews.id - Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat 878 kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak Januari hingga sekarang. Puncak kasus DBD terjadi ada Februari dan Maret.

​​​​​​"Kasus DBD puncaknya terjadi pada Februari dan Maret, yang mencapai 268 kasus," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Sumitro, Rabu (24/6/2020).

Menurut dia, kasus DBD tersebar di sejumlah wilayah kecamatan termasuk Karangmojo, Ponjong, Wonosari, dan Patuk. Dia pun menekankan pentingnya kepedulian warga menjaga kebersihan lingkungan dalam upaya mencegah penularan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan menular melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

"Ada kecenderungan warga memberi ruang nyamuk untuk berkembang biak. Kami berharap ada gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), sehingga tidak ada jentik nyamuk yang berkembangbiak," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengemukakan pentingnya peningkatan upaya pencegahan penularan DBD. Apalagi saat ini warga lebih banyak berada di rumah guna menghindari penularan Covid-19.

"Untuk itu upaya antisipasi paling awal adalah PSN," katanya.

Dewi menjelaskan, nyamuk Aedes biasanya muncul pada pagi hari pukul 08.00 sampai 10.00 serta sore hari pukul 15.00 WIB hingga 16.00. Guna mencegah gigitan nyamuk penular DBD, warga bisa menggunakan obat anti-nyamuk pada masa-masa itu.

Gunungkidul Catat 878 Kasus DBD selama 6 Bulan

GUNUNGKIDUL, iNews.id - Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat 878 kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak Januari hingga sekarang. Puncak kasus DBD terjadi ada Februari dan Maret.

​​​​​​"Kasus DBD puncaknya terjadi pada Februari dan Maret, yang mencapai 268 kasus," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Sumitro, Rabu (24/6/2020).

Menurut dia, kasus DBD tersebar di sejumlah wilayah kecamatan termasuk Karangmojo, Ponjong, Wonosari, dan Patuk. Dia pun menekankan pentingnya kepedulian warga menjaga kebersihan lingkungan dalam upaya mencegah penularan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan menular melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

"Ada kecenderungan warga memberi ruang nyamuk untuk berkembang biak. Kami berharap ada gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), sehingga tidak ada jentik nyamuk yang berkembangbiak," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengemukakan pentingnya peningkatan upaya pencegahan penularan DBD. Apalagi saat ini warga lebih banyak berada di rumah guna menghindari penularan Covid-19.

"Untuk itu upaya antisipasi paling awal adalah PSN," katanya.

Dewi menjelaskan, nyamuk Aedes biasanya muncul pada pagi hari pukul 08.00 sampai 10.00 serta sore hari pukul 15.00 WIB hingga 16.00. Guna mencegah gigitan nyamuk penular DBD, warga bisa menggunakan obat anti-nyamuk pada masa-masa itu.


Editor : Nani Suherni