Hadiri Tawur Agung Kesanga, Menag Ajak Umat Hindu Dukung Pemilu Damai

Kuntadi ยท Rabu, 06 Maret 2019 - 16:02 WIB
Hadiri Tawur Agung Kesanga, Menag Ajak Umat Hindu Dukung Pemilu Damai
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menghadiri prosesi Tawur Agung Kesanga menjelang Hari Raya Nyepi di Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Rabu (6/3/2019). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.idMenteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin berharap perayaan Hari Suci Nyepi tahun baru Saka 1941 menjadi ajang untuk mawas diri dan introspeksi. Umat Hindu diminta untuk ikut mewujudkan Pemilu 2019 yang damai.

“Terima kasih umat Hindu yang sangat peka dengan situasi kondisi bangsa menghadapi ujian di tahun politik,” kata Menag saat menghadiri Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Rabu (6/3/2019).

Menurut Menag, tema besar yang diusung, melalui catur brata penyepian untuk kesuksesan Pemilu 2019, harus terus digaungkan secara masif. Tema ini bukan sekadar jargon, namun sangat strategis dalam mewujudkan pemilu yang damai.

“Mari kokohkan kebersamaan umat beragama agar kita tidak lelah menjaga kerukunan antar dan internal umar beragama,” ujarnya.

Kehidupan rukun dan harmonis yang terpelihara bisa menghasilkan pemilu yang damai. Pemilu harus bisa menggembirakan semua umat beragama dan jangan menjadi kontentasi ataupun memunculkan intoleransi yang menjadikan masyarakat menjadi terpecah-belah.

Kultur keanekaragaman yang ada yang telah hidup berabad tetap dalam internalisasi Bhinneka Tunggal Ika. Tema perayaan Nyepi harus menjadi panduan yang tidak hanya bersifat filosofis, tetapi juga kerukunan keharmonisan dan kedamaian.

“Nyepi bukan sekadar sebagai hari raya, tapi menjadi hari suci. Mari jadikan Nyepi sebagai sumber inspirasi menata perbuatan perkataan dan pikiran menjadi perkataan dan perbuatan yang suci dan bersih,” katanya.

Ketua Pengurus Prisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Wisnu Bawa Tanaya dalam laporannya mengatakan, Tawur Agung Kesanga menjadi momentum untuk menggugah kembali spirit mewujudkan kehidupan yang harmonis. Konflik yang kerap muncul harus bisa diselesaikan dengan pendekatan budaya ataupun kesejahteraan.

“Bhinneka Tunggal Ika menjadi konsep dasar, spirit harmoni. Tidak hanya hubungan manusia, namun juga bagaimana umat Hindu menghargai alam semesta,” katanya.

Melasti menjadi salah satu cara untuk menghapus kekotoran dan menghilangkan keburukan yang kerap dilakukan di alam. Ini menjadi bentuk penghormatan kepada alam sebagai sumber kehidupan. Sementara tawur agung kesanga ini memiliki tujuan untuk membangun harmonisasi dengan alam.

“Mari kita berikan yang terbaik untuk bangsa,” ujarnya.


Editor : Maria Christina