get app
inews
Aa Text
Read Next : Terungkap! Bocah SD Tewas di Cipatat KBB Ternyata Dibunuh Kakak Tiri demi HP

Ketegaran Depi, Bocah 9 Tahun di Kulonprogo yang Rawat Ayahnya karena Lumpuh

Jumat, 02 Agustus 2019 - 14:08:00 WIB
Ketegaran Depi, Bocah 9 Tahun di Kulonprogo yang Rawat Ayahnya karena Lumpuh
Putri Depi Nuraini (9), duduk di samping ayahnya Sakijo (59), yang terbaring di tempat tidur di rumah mereka, di Pedukuhan Tangkisan III, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo, DIY. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id – Anak berusia sembilan tahun, Putri Depi Nuraini, yang tinggal di Pedukuhan Tangkisan III, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, DIY, harus merawat ayahnya yang lumpuh. Di saat teman sebayanya masih banyak bermain menikmati masa anak-anak, hari-hari siswi kelas IV Sekolah Dasar (SD) Pripih itu banyak dihabiskan di rumah.

Ayahnya Sakijo (59), sejak tahun lalu hanya bisa tergolek di tempat tidur. Sakijo lumpuh setelah terjatuh dari pohon kelapa saat menyadap nira. Sementara ibunya Sonah, sudah meninggal dunia saat Depi masih berusia tiga tahun lantaran menderita penyakit kanker.

Bersama ayahnya, Depi tinggal di rumah sederhana berukuran 6x9 meter. Rumah itu hanya berdinding batako tanpa plester. Itu pun karena ada bantuan program bedah rumah. Sementara lantainya belum dilapisi dengan ubin atau keramik, hanya semen kasar.

Untuk makan sehari-hari, Depi bersama ayahnya hanya mengandalkan bantuan dari saudara-saudara, kerabat, serta warga di sekitar tempat tinggal mereka.


Setiap hari, praktis Depi yang merawat ayahnya dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Mulai dari menyapu membersihkan rumah, menyuapi dan mengambilkan semua kebutuhan ayahnya. Untuk mandi, Sakijo akan dibantu adiknya lantaran kakinya tidak bisa berfungsi untuk berjalan dan hanya ngelesot.

“Di rumah menyapu, bersih rumah dan bantu-bantu bapak, ambil makan dan minum,” ujar Depi singkat saat ditemui, Jumat (2/8/2019).

Untuk berangkat sekolah, Depi biasanya menumpang kerabat atau tetangganya. Namun saat pulang, dirinya kerap seorang diri, berjalan kaki sejauh 3 kilometer (km) dengan kondisi medan perbukitan sepanjang jalan.


Meskipun begitu, Depi tidak mengeluh. Dia mengaku sangat sayang kepada ayahnya. Sejak kecil, dia selalu ikut mendampingi ayahnya menderes. Namun sejak ayahnya jatuh, kegiatan itu pun terhenti. Dia harus sabar merawat ayahnya.

Sementara Sakijo mengaku bersyukur anaknya penurut dan bisa memenuhi kebutuhannya. Hanya untuk buang air, dia akan ngesot ke kamar mandi. Selebihnya, dia mengandalkan anak semata wayangnya.

“Tahun 2018 saya jatuh dari pohon kelapa saat menderes. Setelah itu, kaki menjadi lumpuh,” ujarnya.

Dulu, menyadap nira dan mengolah menjadi gula kelapa menjadi mata pencahariannya. Namun setelah petaka datang, Sakijo tak lagi bisa bekerja memenuhi kebutuhan keluarga dan anaknya. Kondisi itu sempat membuatnya putus asa. Dia merasa tidak lagi punya arah hidup.

Namun, putrinya Depi menjadi penyemangat. Dia pun berharap agar Depi sukses di kemudian hari. “Dia anak penurut, saya ingin dia bisa sekolah sampai SMA,” ujarnya.

Tidak seperti ayahnya, Depi tidak takut untuk bermimpi lebih besar. Di tengah kerasnya kehidupan yang dia rasakan, dia tak lantas patah semangat. Depi bertekad untuk terus belajar agar kelak, dia bisa menggapai cita-citanya menjadi dokter. “Biar bisa merawat bapak,” katanya.

Editor: Maria Christina

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut