Lahir Dalam Kondisi Tangan Cacat, Puji Lestari Piawai Melukis dengan Kaki

Kismaya Wibowo ยท Rabu, 27 Januari 2021 - 13:48:00 WIB
Lahir Dalam Kondisi Tangan Cacat, Puji Lestari Piawai Melukis dengan Kaki
Penyandang disabilitas asal gunungkidul Puji Lestari cukup piawai melukis menggunakan kaki kanannya. (foto: iNews.id/ KIsmaya Wiibawa)

Lahir Dalam Kondisi Tangan Cacat, Puji Lestari Piawai Melukis dengan Kaki

GUNUNGKIDUL, iNews.id – Lahir dengan kondisi fisik tidak sempurna, tidak mengurangi semangat Puji Lestari (23) untuk berkarya. Warga Padukuhan Kayu Balung, Kalurahan Girisekar, Kapanewonan Panggang, Gunungkidul, justru piawai melukis di atas kanvas. 

Perempuan kelahiran 12 September 1997 ini lahir dengan kondisi kedua tangan tidak sempurna. Dia tidak memiliki telapak tangan dan lengannya lebih pendek dari manusia normal. Untuk melukis dia harus menyatukan kedua lengannya untuk menggoreskan kuas ke atas kanvas.  

Namun cara ini tidak akan bertahan lama, karena lengannya cepat lelah. Dia kemudian menggunakan kaki kanannya untuk melukis. Kuas ini dijapit dengan jari-jari kakinya, untuk kembali menggoreskan kuas.

“Kalau sudah capek saya ganti pakai kaki kanan,” katanya, Rabu (27/1/2021). 

Keahlian melukis, dia peroleh ketika masih duduk di bangku sekolah luar biasa (SLB). Saat itu dia bertemu dengana salah satu gurunya Iwan Setiawan yang menjadi mentornya di sekolah ini. Dari situlah dia diajarkan cara melukis dan mencampur pewarna agar menghasilkan ukuran yang tepat. 
 
Untuk menghasilkan sebuah lukisan dengan ukuran 40x50 cm, diselesaikannya selama lima hari. Kadang malah lebih, karena aktivitas ini dilakukan ketika waktu senggang. Dia masih harus mengurus keluarga dan putri semata wayangnya yang baru berusia lima tahun. 

“Melukis menjadi ekspresi saya agar hidup ini lebih nyaman,” katanya. 


Puji mengaku paling senang adalah melukis pemandangan alam. Dia bisa berimajinasi lebih jauh untuk menikmati karunia Ilahi.  
Sementara itu, sang mentor Iwan Setiyawan mengatakan Puji Lestari memiliki semangat kuat untuk melukis. Sejak di bangku SLB dia telah menunjukkan bakat yang dimilikinya. Namun setelah lulus dan menikah, aktivitas ini sudah tidak dilakukan.

“Saya melihat bakatnya ada sejak masih belajar. Meski disabilitas namun hasil karyanya cukup bagus,” kata Iwan.

Selama masa pandemi covid-19, Puji telah menyelesaikan tiga lukisan. Untuk bisa melukis dia banyak mendapatkan dukungan dari teman-temannya berupa peralatan. Sedangkan penghasilan suami yang berjualan makanan bakwan kawi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.     

Editor : Kuntadi Kuntadi