Menambang Tanah Tanpa Izin, Warga Gunung Kidul Ditangkap Polisi

Kuntadi ยท Rabu, 30 Oktober 2019 - 17:10 WIB
Menambang Tanah Tanpa Izin, Warga Gunung Kidul Ditangkap Polisi
Salah satu barang bukti yang disita polisi dalam kasus tambang tanah ilegal di Sleman, Yogyakarta. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.id - Penyidik Direskrimsus Polda DIY mengungkap kasus penambangan galian C illegal di Pedukuhan Tambakbayan, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta. Petugas menetapkan YS (28) warga Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul sebagai tersangka.

Direskrimsus Polda DIY, Kombes Pol Tony Surya Putra mengatakan kasus ini berhasil diungkap setelah ada laporan dari masyarakat. Mereka resah dengan aktivitas penambangan ilegal.

Berbekal laporan ini, petugas melakukan penyelidikan di lapangan. Setelah mendapatkan cukup bukti, polisi mengamankan YS yang melakukan penambangan galian C tanpa dilengkapi surat ijin tambang.

YS, kata Tony merupakan warga yang mendapatkan order untuk meratakan tanah di Caturtunggal. Namun YS menjual tanah tersebut ke luar tanpa sepengetahuan petugas.

"YS ini mendapat proyek meratakan tanah, tetapi malah menjual keluar," kata Tony, Rabu (30/10/2019).

Setiap satu dump truck tanah urug ini, dijual dengan harga Rp450 ribu. Hasil penjualan ini dinikmati sendiri oleh tersangka dan tidak diberikan kepada pemilik tanah.

"Aktivitas penambangan ini tanpa dilengkapi dengan dokumen perijinan," katanya.

Aktivitas penambangan ini telah dilakukan tersangka sepekan terakhir di lokasi yang akan dijadikan sebagai kolam renang. Atas perbuatannya, YS dijerat dengan Undang-undang Mineral dan Batubara, yakni pasal 158 undang-undang RI nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan mineral batubara dengan ancaman penjara 10 tahun serta denda Rp10 miliar.

"Kita masih lakukan penyelidikan. Karena lokasi ini bukan wilayah penambangan," kata Tony.

Dalam perkara ini petugas juga mengamankan satu unit escavator, tiga unit dump truck, satu buah buku rekap catatan, dua unit telepon selular dan uang sebesar Rp2,4 juta.


Editor : Umaya Khusniah