Merapi Kembali Erupsi Disertai Hujan Abu, Begini Penjelasan BPPTKG Yogyakarta

Kuntadi ยท Senin, 14 Oktober 2019 - 23:36 WIB
Merapi Kembali Erupsi Disertai Hujan Abu, Begini Penjelasan BPPTKG Yogyakarta
Gunung Merapi kembali erupsi dengan memuntahkan awan panas setinggi 3.000 meter. (Foto: iNews.id/Tata Rahmanta)

YOGYAKARTA, iNews.id - Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida mengatakan, erupsi Gunung Merapi yang terjadi Senin (14/10/2019) sore pukul 16.31 WIB terjadi akibat akumulasi gas.

Dia menjelaskan, erupsi Gunung Merapi itu sebelumnya tidak teramati peningkatan data pemantauan yang signifikan menjelang kejadian. “Kejadian ini disebabkan akumulasi gas vulkanik yang terlepas secara tiba-tiba,” kata Hanik dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Hanik, ancaman bahaya dari erupsi itu sama seperti sebelumnya yakni, awan panas letusan (APL) yang bersumber dari material kubah lava. Hasil pemodelan menunjukkan jika kubah lava saat ini 468.000 meter kubik runtuh. “Luncuran awan panas ini tidak melebihi radius 3 km,” ucapnya.

Hanik mengatakan, kolom abu kali ini yang mencapai 3.000 meter dari puncak memang lebih besar dibandingkan sebelumnya yang hanya berkisar antara 800-1.000 meter.

Meski demikian, kata dia, status Merapi masih tetap di level II yakni Waspada. Terkait erupsi itu, BPPTKG sudah menerbitkan zona orange untuk penerbangan.

“Untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik terhadap penerbangan maka Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) diterbitkan dengan warna orange,” katanya.

Gunung teraktif di Asia itu memuntahkan awan panas setinggi 3.000 meter dari puncak, pada pukul 16.31 WIB. Awan panas terekam di seismograf dengan durasi 270 detik dan amplitudo 75 mm. Kolom letusan awan panas terpantau setinggi 3.000 meter dari puncak.

Sedangkan angin bertiup ke arah barat daya atau ke arah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Hujan abu dilaporkan terjadi di sekitar Gunung Merapi dengan arah dominan ke sektor Barat sejauh 25 km dari puncak pada pukul 18.05 WIB,” kata Hanik.

Hanik mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km seperti yang telah direkomendasikan.


Editor : Kastolani Marzuki