Pakar Bioteknologi Unisa Jogja Kenalkan Bahaya dan Penanganan Sengatan Ubur-Ubur
YOGYAKARTA, iNews.id - Ubur-ubur beracun kerap muncul di perairan selatan Yogyakarta pada peralihan musim penghujan ke kemarau. Salah satu biota laut ini kerap menyengat wisatawan yang tidak sengaja menyentuh atau terkena tentakelnya.
Ubur-ubur merupakan salah satu biota laut yang masih satu kerabat dengan anemon laut. Kemunculan ubur-ubur menjadi penanda musim bertelurnya penyu karena ubur-ubur menjadi salah satu pakan alami penyu laut.
Dosen Bioteknologi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Arif Bimantara mengatakan, ubur-ubur memiliki racun untuk menyengat guna melindungi diri dari serangan musuh dan menangkap mangsa. Sel-sel penyengat tersebut disebut knidosit yang dikenal dengan nematocyst yang berukutan 11– 24nanometer. Sel ini berada di tentakel ubur-ubur yang beberapa dilengkapi dengan pengait untuk menusuk mangsa atau musuh.
“Racun yang masuk ke dalam tubuh akibat sengatan hewan laut tersebut bisa berdampak ringan dan berat,” kata Arif, Kamis (20/7/2023).
Efek racun ubur-ubur ini cukup beragam, mulai menyebabkan badan lemah, mengantuk hingga rasa gatal pada bagian yang disengat, pembengkakan, nyeri, iritasi kulit. Biasanya juga akan disertai munculnya ruam kemerahan, rasa sakit seperti terbakar atau tertusuk dan terasa menyengat.
Bagi sebagian orang, efek sengatan ubur-ubur juga mengakibatkan sakit perut, mual dan muntah, sakit kepala, kejang otot hingga pingsan. Sedangkan dampak serius dari racun ini dapat berakibat pada kesulitan bernafas dan masalah jantung. Reaksi ini dapat muncul dengan cepat atau beberapa jam setelah sengatan tergantung pada umur dan kondisi kesehatan orang yang disengat.
Editor: Kuntadi Kuntadi