Pemkot Yogya Siapkan Shelter dan Strategi WFH bagi Tenaga Kesehatan

Agregasi Harianjogja ยท Senin, 05 Oktober 2020 - 08:39:00 WIB
Pemkot Yogya Siapkan Shelter dan Strategi WFH bagi Tenaga Kesehatan
Para tenaga kesehatan

YOGYAKARTA, iNews.id - Wacana selter bagi tenaga kesehatan (nakes) masih terus dimatangkan Pemerintah Kota Yogyakarta. Dinas kesehatan memastikan kajian soal kebutuhan shelter nakes dan strategi work form home (WFH) telah dilakukan dan diajukan kepada Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Yogya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogya, Emma Rahmi Aryani menjelaskan ada dua hotel pendidikan yang nantinya bisa dijadikan opsi sebagai shelter nakes. Pertama shelter sebagai asrama bagi nakes yang berdomisili di luar kita sifatnya seperti mes dan yang kedua bagi nakes yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala. 

"Ini belum bicara rinci tapi dari Pemkot Yogya sudah ada niat," katanya, Minggu (4/10/2020).

Emma menerangkan jika berfungsi sebagai asrama, maka shelter akan dihuni para nakes yang andil dalam penanganan Covid-19 dan bekerja di fasilitas kesehatan pemerintahan serta nakes yang rumahnya di luar kota.

"Nakes itu lah, misalnya rumahnya luar kota itu nanti bisa saja istirahatnya dalam waktu dua atau tiga atau bisa di situ, jadi tidak bolak balik misalnya ke Klaten atau Purworejo," katanya.

Pengoperasian shelter sebagai asrama untuk nakes merupakan salah satu bentuk fasilitas kenyamanan bagi para nakes. Hal ini juga bisa mengurangi penyebaran Covid-19.

"Memberikan tempat istirahatlah istilahnya, sehingga nanti dalam pelayanan maksimal dan dia tidak gampang ketularan, nanti kalau kondisi dia turun, paparannya banyak sekali, ya walaupun dia pakai APD, yang Wirobrajan itu kan sudah pakai apd level tiga nyatanya juga masih kena (Covid-19)," ucapnya.

Dia berharap shelter nakes yang sedang dibahas memang bukan diperuntukkan bagi nakes yang positif. Meski dia tidak menampik bahwa kemungkinan shelter nakes sehat dan shelter nakes positif bisa dioperasikan keduanya.

"Ini nanti bisa saja berkembang, kemarin ada dua, mungkin nanti bisa saja yang tidak konfirmasi positif bisa disewakan hotel mana, kan enggak masalah, dia enggak positif, nanti yang positif ya mungkin di hotel pendidikan, kalau yang hanya untuk kita banyak pilihan, tapi yang positif tapi OTG kalau rumahnya jauh, mungkin kalau isoalsi di rumah nanti malah menularkan keluarganya," katanya.

Saat ini kajian yang sedang diproses terkait strategi Work From Home (WFH) bagi nakes. Konsep WFH akan berpaku pada tingkat risiko wilayah. Misalnya, suatu wilayah masuk dalam kategori rendah maka tingkat pekerja yang WFH hanya 25 persen. Sedangkan untuk wilayah risiko tinggi persentase pekerja WFH 50 persen, sedangkan untuk wilayah berisiko tinggi persentase pekerja WFH sebesar 75 persen.

"Kami kan baru juga akan memikirkan turn off dari nakes, karena mereka juga ada keterbatasan, sudah kita lakukan kajian, untuk bisa menetapkan daerah kita ini, apalagi kita risiko rendah atau sedang, nanti ada hubungannya dengan aturan WFH," katanya.

Kajian WFH telah masuk ke Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogya. Kajian telah masuk ke Satgas, setelahnya akan dibahas dengan organisasi dengan BKPP, lalu diputuskan Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogya.

 "Kami baru mengkaji, nanti baru dibahas untuk kemudian ditentukan, misal kita memang daerah risiko sedang, berarti 50 persen harus WFH," ujarnya.

Sebelumnya Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Heroe Poerwadi menuturkan pihaknya telah berkomunikasi dengan para nakes menyangkut kebutuhan shelter nakes. Bila dibutuhkan, hotel pendidikan di Kota Yogya siap diproyeksikan menjadi selter nakes. Heroe menuturkan, pihak hotel mengaku bersedia untuk dijadikan shelter nakes, namun belum tahu rinci berapa kapasitas daya tampung hotel bisa menampung para nakes.

Artikel ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul "Jogja Siapkan Selter & Strategi WFH untuk Nakes"

Editor : Nani Suherni