SAR Cari Nelayan dan Wisatawan Hilang di Pantai Parangtritis

Trisna Purwoko ยท Senin, 07 Januari 2019 - 12:54:00 WIB
SAR Cari Nelayan dan Wisatawan Hilang di Pantai Parangtritis
Petugas SAR saat menyisir pesisir Pantai Parangtritis, Bantul, DIY. (Foto: iNews/Trisna Purwoko)

BANTUL, iNews.id – Petugas SAR gabungan menyisir perairan Pantai Parangtritis dan Samas, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencari dua korban terseret ombak, Senin (7/1/2019). Pencarian hari kedua ini berdasarkan laporan hilangnya seorang wisatawan dan nelayan di pantai tersebut, Minggu (6/1/2019).

Pantauan iNews, proses pencarian dilakukan SAR gabungan dengan menebar jaring dan menyisir pesisir sepanjang pantai. Namun hingga siang ini, kedua korban belum ditemukan. Mereka yang terlibat dalam misi pencarian yakni personel Basarnas, SAR Parangtritis, PMI dan relawan.

“Pencarian masih kami lakukan dengan melibatkan petugas gabungan. Kami sudah menyisir pinggiran pantai namun belum menemukan kedua korban, ombak juga terlihat cukup tinggi,” kata Saryanto, salah satu anggota SAR gabungan, Senin (7/1/2019).

Informasi yang dirangkum iNews, identitas korban terseret ombak di Pantai Parangtritis yakni Rahmat Tri Prasetyo (20), warga Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng). Korban saat itu sedang berwisata bersama rombongannya.

Awal kejadian, korban sudah diperingatkan petugas SAR yang berjaga di pantai. Namun korban bersama ketiga temannya tetap nekat bermain air di kawasan palung yang berbahaya. Keempatnya terseret ombak hingga ke tengah laut, tiga korban berhasil diselamatkan tim SAR, namun korban hilang masih dalam pencarian.

Sementara korban hilang kedua merupakan nelayan Pantai Samas yang berasal dari Kulonprogo bernama Purwanto alias Gareng. Perahu korban terhantam ombak hingga pecah saat berlabuh. Satu nelayan bernama Yuli Faska berhasil diselamatkan, namun korban hilang terseret ombak.

Pencarian kedua korban masih terus dilakukan secara intensif petugas dengan mendirikan tiga pos pencarian. Yakni Pos SAR Pantai Parangtritis, Pantai Samas dan Pantai Baru.


Editor : Donald Karouw