Sembuh, Pasien Covid-19 di Sleman Pulang Jalan Kaki Sejauh 8,5 Km dari Rumah Sakit

Agregasi Harianjogja ยท Sabtu, 04 Juli 2020 - 11:49 WIB
Sembuh, Pasien Covid-19 di Sleman Pulang Jalan Kaki Sejauh 8,5 Km dari Rumah Sakit
Kristiyanto (depan) bersama ibunya Waginah saat ditemui di rumahnya di Dusun Drono, Kelurahan Tridadi, Kecamatan Sleman, Sleman, pada Senin (29/6/2020). - (Foto: Harian Jogja/Hery Setiawan)

SLEMAN, iNews.id - Kristiyanto, pasien Covid-19 dari klaster Indogrosir akhirnya dinyatakan sembuh setelah 52 hari berjuang melawan virus corona beberapa waktu lalu. Dia mewujudkan rasa syukurnya dengan berjalan kaki dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito sampai rumahnya di Dusun Drono, Kelurahan Tridadi, Sleman.

Khawatir, cemas, dan takut mewakili perasaannya begitu mendengar dia reaktif rapid test pada awal Mei lalu. Dia pun mengisolasi diri di rumah bersama dengan keluarga. Situasi semakin sulit tatkala dia dipanggil untuk isolasi di Rumah Sakit Paramedika, Sleman. Selama 10 hari dia menunggu hingga tiba jadwal swab test.

Sesaat dia mendengar kabar baik. Hasil test swab pertama menunjukkan negatif. Namun, sehari berselang hasil tes kedua menyatakan dirinya positif Covid-19. Dia pun langsung dirujuk ke RSUP Dr Sardjito.

“Sebetulnya saya sehat juga. Enggak ada gejala sama sekali. Tapi hasilnya positif, ya sudahlah,” katanya, dikutip Harianjogja.com, Sabtu (4/7/2020).

Menjadi pasien positif Covid-19 membuat laki-laki yang akrab disapa Kris itu harus berjauhan dengan keluarga. Pikiran kalut dan depresi juga kerap mampir melintas dalam benaknya.

Anak, istri, dan orang tua Kris tak henti-hentinya bertanya kapan dia pulang. Untuk sementara, mereka hanya bisa bersua lewat gawai. Bukannya lega, hal itu justru membuat Kris semakin sedih. Apalagi, Kris terbilang lama tinggal di ruang perawatan. Rekan-rekannya sesama pegawai Indogrosir, bahkan ada yang sudah diperbolehkan pulang setelah dua kali swab test.

Belum lagi gejolak di lingkungan masyarakat yang membuat beban pikiran Kris makin bertambah. Rasa tak enak hati kepada warga terus menggaggu pikirannya. Saat melakoni isolasi di rumah, Kris tak serta merta menjauh dari warga. Dia ingat punya tanggung jawab menyalurkan konsumsi ronda. Beberapa warga pun juga sempat bersua dengannya.

"Saya cemas dan takut. Jauh dari keluarga, istri, dan anak. Saya juga khawatir kalau nanti sembuh warga menolak kepulangan saya," ujarnya.

Saat Kris dinyatakan Covid-19, penelusuran terhadap warga yang berpotensi tertular pun dilakukan. Didapati sekitar 20 orang termasuk anggota keluarga Kris diharuskan ikut rapid test.

Depresi dan stres yang sebelumnya mengganggu perlahan mulai mereda. Hasil rapid test warga yang pernah berkontak fisik dengannya menunjukan nonreaktif, termasuk keluarganya.

Kris terus bertahan dalam situasi sulit itu. Sebisa mungkin, dia turuti apapun perintah dokter dan perawat. Bantuan semangat juga datang dari kepala dusun, ketua RT, dan ketua RW yang. Itu bagi Kris sungguh melegakan.

Dia mulai menyadari satu hal bahwa Covid-19 bukan soal dirinya saja. Kesembuhan adalah hasil dari sumbangsih keluarga dan warga yang terus mendukungnya. Inilah yang menjadi latarbelakang nazar kesembuhan. Apabila hari kesembuhan itu datang, dia akan berjalan kaki dari RSUP Dr Sardjito sampai rumahnya di Dusun Drono.

Jumat (26/6/2020), dia berada di ruang perawatan. Di sebuah sudut ruangan, ada pelantang yang jadi alat berkomunikasi para pasien dan petugas kesehatan. Tiba-tiba, terdengar suara yang selama ini sangat Kris nantikan.

“Hasil swab test kesebelas sudah keluar. Hasilnya negatif. Mulai hari ini Mas Kris sudah boleh pulang,” tutur Kris menirukan suara yang dia dengar melalui pengeras suara di ruang perawatan.

Rasa bahagia seketika dia rasakan setelah 52 hari berjuang melawan Covid-19 yang mendekam dalam tubuhnya. Kris langsung menyampaikan kesembuhan itu kepada istrinya. Mendengar kabar itu, istri Kris juga merasakan perasaan yang sama. Kris bersiap pulang. Mulanya, istri Kris berniat menjemput suaminya. Tetapi Kris ingat kalau dia punya nazar yang harus ditunaikan. Istrinya pun tak keberatan.

Sore hari, Kris berangkat dari rumah sakit. Dia tak secara terang-terangan minta izin pulang jalan kaki. Kris mengaku kepada rumah sakit bahwa dia akan dijemput sang istri.

Kris harus menempuh jarak sepanjang 8,5 km. Dia memilih rute Pogung, lalu melewati Jalan Monjali. Perjalanan dilanjutkan melalui Jalan Ring Road Utara sampai Fly Over Jombor. Selama perjalanan, Kris dibuat kaget.

Ternyata, sejumlah warga mulai mengawal perjalanan Kris. Mulanya satu hingga tiga orang saja. Jumlah pengawal Kris makin bertambah jelang akhir perjalanan. Dia disambut bak seorang pahlawan yang baru saja pulang membawa kemenangan. Spanduk bertuliskan "Selamat Datang Mas Kris, Jawara dari Drono" terpampang menyambut kedatangannya. Kris akhirnya pulang.

Artikel ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul "Cerita Kristiyanto, Warga Sleman yang 52 Hari Berjuang Melawan Covid-19 & Jalan Kaki ke Rumah Begitu Sembuh"


Editor : Nani Suherni