Tradisi Ngawu-Awu, Cara Petani di Gunungkidul Sambut Musim Penghujan

Kuntadi ยท Sabtu, 02 November 2019 - 01:17:00 WIB
Tradisi Ngawu-Awu, Cara Petani di Gunungkidul Sambut Musim Penghujan
Tradisi Ngawu-Awu, cara masyarakat di Gunungkidul, DIY, sambut musim hujan, Jumat (1/11/2019). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

GUNUNGKIDUL, iNews.id – Masyarakat Kabupaten Gunungkidul, DIY memiliki Tradisi Ngawu-Awu untuk menyambut datangnya musim hujan. Dalam tradisi ini, warga mengolah lahan dan menebar benih agar tanaman siap tumbuh saat musim hujan tiba.

“Ngawu-Awu ini menjadi kearifan lokal, dan masyarakat sudah siap menyambut datangnya musim penghujan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, Jumat (1/11/2019).

Bambang mengatakan, tradisi ini dilakukan petani lahan kering di zona selatan Gunungkidul. Petani akan menebar benih bersamaan dengan pengolahan lahan, dan menutupnya kembali.

Ketika hujan tiba, benih akan tumbuh lebih cepat. Metode ini dilakukan untuk mengantisipasi keterbatasan tenaga kerja pertanian serta mengejar ketersediaan air untuk musim tanam berikutnya.

“Ini tradisi turun temurun, dan dilaksanakan di sawah tadah hujan,” kata Bambang.

Tradisi ini dilaksanakan masyarakat di empat kecamatan di antaranya Kecamatan Tepus, Tanjungsari, Girisubo dan Rongkop. Pada musim tanam pertama di tahun 2019-2020, diperkirakan petani telah menebar benih di lahan seluas delapan ribuan hektare.

Sementara, olahan secara keseluruhan di Gunungkidul mencapai lebih dari 70 persen dari total 42 riubu hektar lahan kering.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan ada empat kecamatan yang tercatat dengan curah hujan yang cukup baik. Di antaranya, Kecamatan Girisubo dengan curah hujan mencapai 9 mm, Saptosari mencapai 39 mm, Wonosari dengan 16 mm dan Tanjungsari mencapai 21 mm.

Editor : Umaya Khusniah

Bagikan Artikel: