Tuntut Perbaikan Upah, Ratusan Buruh Yogyakarta Turun ke Jalan

Kuntadi ยท Selasa, 01 Mei 2018 - 18:36 WIB
Tuntut Perbaikan Upah, Ratusan Buruh Yogyakarta Turun ke Jalan
Massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta menggelar long march di sepanjang Jalan Malioboro. (Foto: iNews.id/Gunanto Farhan)

YOGYAKARTA, iNews.id – Ratusan orang menggelar aksi turun ke jalan untuk memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) di Yogyakarta. Massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta menggelar long march di sepanjang Jalan Malioboro.

Dalam aksinya, para buruh menyerukan tuntutan perbaikan upah. Selama ini buruh perempuan dibayar sangat murah dan masih jauh dari laik. Mereka juga memukul kentongan sebagai peringatan bagi pemerintah agar lebih peka dan memperhatikan nasib buruh. "Upah buruh harus dinaikan, pemerintah harus memperhatikan," ucap salah satu buruh Sulastri di Yogyakarta, Selasa (1/5/2018).

Dalam orasinya, Sulastri menyampaikan, selama ini pemerintah tidak pernah memperhatikan buruh. Berbagai kebijakan menyangkut ketenagakerjaan selalu berpihak kepada perusahaan. Menurutnya, buruh tidak pernah mendapat tempat sehingga kesejahteraan mereka tidak pernah laik.

Dia menilai Undang-Undang Ketenagakerjaan juga merugikan buruh. Perusahaan yang kerap memeras buruh justru tidak pernah mendapatkan sanksi, sedangkan pekerja tidak pernah mengalami perbaikan pendapatan. "Pemerintah harus menindak para pengusaha yang hanya memeras tenaga buruh dengan memberikan upah murah," ujarnya.  

Long march buruh yang menyebabkan kemacetan di Jalan Malioboro hari ini berhenti di depan Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), titik nol, dan Alun-alun utara.

Sekretaris Aliansi Buruh Yogyakarta (ABY) Kirnadi mengatakan, upah minim membuat buruh sulit untuk membangun atau membeli rumah. Upah buruh di DIY sesuai dengan UMK (upah minimum kabupaten kota) di kisaran Rp1,337 juta hingga Rp1,57 juta. Hal tersebut dirasakan sangat memberatkan karena nilai tukar ekonomi terus melambung dan tarif dasar listrik yang kerap naik ikut mempersulit kehidupan buruh di Yogyakarta. Sebelum membubarkan aksi, para buruh mementaskan sejumlah pertunjukan teatrikal budaya dan memotong tumpeng di Alun-alun utara.

"Kami minta outsourching dan pemagangan dihapus. Buruh harus mendapatkan upah yang laik dan jaminan sosial yang lebih manusiawi," kata Kirnadi.


Editor : Achmad Syukron Fadillah