Saurath Mela atau Sabhagachhi atau pasar mempelai pria. (Foto: Ismat Ara/Al Jazeera)
Umaya Khusniah

NEW DELHI, iNews.id - Anda perempuan jomblo yang tak punya pasangan? Jika ya, tak ada salahnya anda pergi ke pasar ini. Di tempat ini Anda bisa membeli pria-pria lajang yang bisa dijadikan suami.

Pasar unik ini berada di Distrik Madhubani, negara bagian Bihar, India. Pasar ini menjadi ajang transaksi jual beli pasangan.  

Pasar mempelai pria ini sudah ada sejak 700 tahun lalu. Para ahli memperkirakan nilai total pembayaran mahar dalam satu tahun di India mencapai 5 miliar dolar AS. Jumlah ini sama dengan pengeluaran tahunan India untuk kesehatan masyarakat.

Tradisi ini diberi nama Saurath Mela atau Sabhagachhi. Tradisi unik ini digelar selama sembilan hari berturut-turut. 

Setiap pria yang 'dijual' memiliki harga yang bervariasi. Kualifikasi pendidikan serta latar belakang keluarga mempengaruhi harganya.

Para calon suami berdiri di depan umum. Sementara itu, wali laki-laki dari anak perempuan biasanya ayah atau saudara laki-laki yang akan memilih mereka. Umumnya pengantin wanita tidak memiliki suara dalam proses pemilihannya, semua ditentukan oeh wali laki-laki tersebut. 

Biasanya keluarga calon pengantin peremuan mengunjungi desa tersebut tanpa menyatakan niat. Mereka mengamati para pria itu secara diam-diam dari jauh.

Setelah terjadi kesepakatan, keluarga perempuan mengenakan Mithila gamchha atau selendang merah di atas pengantin pria terpilih untuk membuat pernyataan publik tentang pilihannya. Setelah itu calon mempelai pria akan dibawa pulang. Pengantin pria ini juga juga bisa meminta mas kawin kepada keluarga perempuan.

Namun saat ini tradisi unik ini mulai sepi peminat. Banyak anak muda yang kini beralih ke aplikasi kencan online. “Sekarang hampir tidak ada ratusan pengantin pria yang berkumpul selama acara berlangsung,” ujar warga Swaraj Chaudhary (50) kepada Al Jazeera. 

Warga setempat menyalahkan media dan para politisi atas penurunan minat pada tradisi ini. Media disebut menggambarkan tradisi unik itu sebagai pasar di mana para laki-laki dijual seperti ternak dan label mahar dengan terbuka.


Editor : Ainun Najib

BERITA TERKAIT