Kustini menyebut motif desain Parijotho dan Salak dipilih karena tanaman parijotho dan salak memang banyak ditemukan di Kabupaten Sleman.
Pewarnaannya digunakan warna alam bekerja sama dengan Fakultas Teknik Kimia UGM pada 2015 untuk menemukan pewarna alam yang bermutu, yaitu indigofera dalam bentuk bubuk.
"Bahan baku batik yang bermutu harus tersedia. Kami juga telah bekerja sama dengan PT Primisima sejak 2016 untuk menyediakan bahan baku batik yang bermutu," katanya.
Dia mengatakan, makna filosofis di balik dua motif yang jadi pemenang itu adalah menggambarkan harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat Kabupaten Sleman yang diayomi oleh pemimpin pemegang amanah rakyat.
"Kedua motif tersebut kemudian didesain ulang digabungkan oleh perajin-perajin Paguyuban Batik Khas Sleman menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, yakni batik motif Sinom Parijotho Salak," ucapnya.
Pada 2014, Pemkab Sleman meluncurkan batik motif Sinom Parijotho Salak dengan menerbitkan peraturan Bupati tentang tata kelola batik Sleman tahun 2015.
"Pemkab Sleman kemudian mendaftarkan hak cipta Hak Cipta Motif Batik Sinom Parijotho Salak di Kementerian Hukum dan HAM tahun 2019," ujarnya.
Pemkab Sleman kemudian menetapkan batik Sinom Parijotho Salak sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Sleman.
"Kemudian keluar kebijakan menetapkan penggunaan pakaian oleh masyarakat dan ASN di lingkungan Pemkab Sleman," katanya.
Editor : Ainun Najib
Artikel Terkait