Gunung Api Purba di Gunungkidul. (Foto: iNews.id/Kuntadi)
Kuntadi

GUNUNGKIDUL, iNews.id Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul sulit mewujudkan target pendapatan asli daerah (PAD) yang dipatok dalam APBD. Sampai saat ini objek wisata masih ditutup, sehingga praktis tidak ada pendapatan yang bisa ditarik. 

“Karena ada kebijakan penutupan destinsai, praktis aktivitas pariwisata berhenti total sehingga PAD sulit tercapai,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Harry Sukmono, Minggu (26/9/2021). 

Sebelum pandemi Covid-19, pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan untuk mendongkrak PAD. Pada 2019 realiasi PAD dari sektor ini mencapai Rp25 miliar dengan jumlah kunjungan sebanyak 3,8 juta wisatawan. Pada awal pandemi atau 2020 kunjungan wisatawan masih 1,9 juta orang dengan pendapatan Rp14,2 miliar.

Sedangkan pada 2021 target yang dipatok dari Rp16 miliar telah diturunkan menjadi Rp12 miliar dengan asumsi September-Oktober kondisi sudah pulih. Kenyataanya sampai akhir September Covid-19 masih tinggi dan PPKM masih di Level 3 sehingga objek wisata belum dibuka. 

“PAD wisata hingga sekarang sebesar Rp8,4 miliar,” katanya. 

Penutupan objek wisata tidak hanya berdampak pada PAD sektor pariwisata tapi juga berdampak pendapatan masyarakat dari sekor ini juga menurun. Berdasar survei belanja pengeluaran wisatawan pada 2019, rata-rata tiap wisatawan mengeluarkan Rp150.000 dalam satu hari. Sedangkan pada 2020 turun menjadi Rp50.000 dalam sehari. 

“Pandemi juga mempengaruhi daya beli wisatawan. Implikasinya pada tingkat pendapatan masyarakat,” kata Harry.

Saat ini Dinas Pariwisata sedang membenahi infrastruktur dan standar operasional pelaksanaan penunjang pembukaan objek wisata. Dinas menyiapkan tata kelola pariwisata dengan ada protokol kesehatan khusus, ada standar operasional pelaksanaan (SOP) yang harus dipenuhi dan dijalankan bersama-sama.

SOP dan syarat baru yang harus dipenuhi, khususnya di DIY di antaranya penggunaan aplikasi Visiting Jogja. Selain itu, kewajiban yang harus dipenuhi yakni penggunaan aplikasi Peduli Lindungi. Destinasi wisata juga harus mengantongi sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability (CHSE) dari Kemenparekraf. 
 
 


Editor : Kuntadi Kuntadi

BERITA TERKAIT