2 Warga Papua Terima Penghargaan karena Menyelamatkan Pendatang saat Kerusuhan

Kuntadi ยท Kamis, 17 Oktober 2019 - 02:31 WIB
2 Warga Papua Terima Penghargaan karena Menyelamatkan Pendatang saat Kerusuhan
Pendeta Yason Yikwa dan Titus Kogoya, warga Papua yang mendapat penghargaan Pelopor Perdamaian tahun 2019 dari Menteri Sosial RI, Rabu (16/10/2019). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.id – Sebanyak dua tokoh masyarakat Papua, Pendeta Yason Yikwa dan Titus Kogoya mendapat Penghargaan Pelopor Perdamaian tahun 2019 dari Menteri Sosial RI. Keduanya membantu menyelamatkan warga pendatang di Papua saat kerusuhan beberapa waktu lalu.

Pendeta Yason Yikwa menjadi tameng bagi 500 warga pendatang di wilayah Pikhe, Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya yang terjebak kerusuhan. Sementara Titus Kogoya mengamankan warga pendatang di Kampung Mawampi, Distrik Wesaput, Kabupaten Jayawijaya.

Penghargaan ini diserahkan langsunga oleh Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita di pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta, Rabu (16/10/2019).

BACA JUGA: Penasihat Militer RI Brigjen TNI Fulad Terima Penghargaan dari PBB

“Ini adalah anugerah yang diserahkan kepada mereka yang telah berjasa besar dalam menjaga perdamaian di papua,” kata Agus.

Menurut Mensos, kedua tokoh ini telah memberikan andil atas penyelamatan sandera 500 orang warga pendatang yang terjebak oleh kelompok massa perusuh di wilayah Pikhe dan wilayah Waesaput, Jayawijaya.

“Keduanya adalah simbol dalam menjaga perdagangan,” katanya.

Yason Yikwa mengatakan dirinya menolong warga ini karena melaksanakan firman Tuhan. Dalam injil ada perintah untuk saling mengasihi sesama manusia. Atas dasar itulah dia terpanggil untuk menolong warga.

“Saya sampaikan rusuh di Papua dan Wamena itu bukan karena agama atau gereja, tapi karena rasisme,” katanya.

BACA JUGA: Dinilai Berani, Jokowi Terima Medali dari Presiden Afghanistan

Dirinya mengaku, sedang berada di dalam gereja saat terjadi kerusuhan. Dia lalu lari ke depan dan ke ruko. Saat itulah warga pendatang ketakutan dan meminta tolong.

Mereka lalu diarahkan untuk masuk dan berlindung ke komplek Gereja Baptis Panorama di Phike. Kebetulan di komplek ini juga terdapat asrama dan panti asuhan.

“Saya sampaikan kepada perusuh, lebih baik kamu membunuh saya daripada warga,” katanya.

Apa yang disampaikan Yason yang juga Ketua Klasis ini didengar banyak orang. Perusuh dan dirinya lalu terlibat negosiasi karena massa ingin enam rekan mereka yang ditahan polisi bisa dilepaskan.

BACA JUGA: Pemuda Papua Ini Serukan Perdamaian: Mari Bergandengan Tanpa Melihat Perbedaan

“Dari situlah dilakukan pertukaran sandera dengan tahanan dan semuanya berjalan dengan damai,” katanya.

Yason mempersembahkan penghargaan untuk semua masyarakat Papua. Dia berharap tidak ada lagi orang asli dan pendatang di Papua.

Yason juga bersyukur apa yang dilakukan mampu menarik perhatian pemerintah terhadap penderitaan atas kejadian kerusuhan di Wamena.

Sementara itu, Titus Kogoya bersama sejumlah pemuda, menghadang pelaku kerusuhan di jalan masuk kampung dengan menebang pohon sebagai palang darurat. Tujuannya agar tidak ada orang luar yang bisa masuk.

BACA JUGA: Greta Thunberg, Remaja 16 Tahun Kandidat Peraih Nobel Perdamaian

Dibantu adiknya, Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Tolikara ini memerintahkan warga pendatang untuk secepatnya mencari tempat persembunyian. Dia bertekad melindungi warga pendatang sebab warga lokal kerap berperilaku brutal kala berunjuk rasa.

Para pendatang ini kebanyakan berasal dari Toraja, Madura, dan Jawa. Mereka berprofesi sebagai tukang ojek, pedagang makanan, membuka kios kelontong, dan lainnya. Mereka juga mengontrak rumah milik warga lokal.

Dia mengaku sebanyak 80 warga pendatang berjejalan berada di rumahnya. “Kita minta pemuda Mawampi berjaga, di setiap titik masuk ke kampung,” katanya.


Editor : Umaya Khusniah