Beralih Profesi karena Covid-19, Perajin Ini Sukses Buat Baju Hazmat dan Face Shield

Kuntadi ยท Kamis, 18 Juni 2020 - 16:28 WIB
Beralih Profesi karena Covid-19, Perajin Ini Sukses Buat Baju Hazmat dan Face Shield
perajin di Jatisarono, Nanggulan, Kulonprogo menyelesaikan pembuatan face shield. Foto Kuntadi/iNews.id

KULONPROGO, iNews.id – Seorang pengusaha tas di Kabupaten Kulonprogo, Sareh Budiarto (45) beralih profesi menjadi pengusaha alat pelindung diri (APD) di tengah pandemi Covid-19. Setiap harinya dia bisa memproduksi 1.000 baju hazmat ataupun face shield.

“Kalau sekarang saya tinggal produksi face shield, kalau baju hazmat mengandalkan pesanan,” kata Sareh di rumahnya yang ada di Dukuh Karang Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan Kulonprogo, Kamis (18/6/2020).

Sareh mengaku sudah lebih dari 10 tahun membuka usaha rumahan dengan memproduksi tas. Mulai dari tas sekolah, tas seminar, hingga tas raket ataupun tas senapan. Semuanya dilayani tergantung dari permintaan pasar. Namun, dia banyak mengandalkan pesanan tas dari perusahaan dan seminar.

Sejak pertengahan Maret lalu, usaha yang dirintis bersama istrinya benar-benar berhenti. Pesanan tas seminar yang masuk pada awal Maret diminta untuk ditunda. Pandemi Covid-19 menjadikan seminar juga harus ditunda sampai waktu yang belum terhingga.

“Dalam kondisi itu saya mendapat pesanan baju hazmat dan saya bisa penuhi. Setiap hari bisa memproduksi 600 hingga 1.000 pieces,” ujarnya.

Satu set baju hazmat dijual dengan harga Rp80.000, dan belakangan hanya Rp40.000. Usaha ini terus mengalami penurunan dengan banyaknya produk pesaing. Barulah pada awal Juni dia mendapatkan pesanan pembuatan face shield untuk orang dewasa, anak-anak hingga bayi.

“Minimal satu hari bisa produksi 500 hingga 1.000 untuk face shield,” katanya.

Produk face shield buatan Sareh banyak dipasarkan di Solo, Yogyakarta dan Jakarta. Harganya berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 tergantung jenis dan ukuran. Sedangkan pembelian partai besar harganya akan lebih murah.

“Sekarang sekolah banyak yang pesan, untuk anak-anak pada tahun ajaran baru nanti,” katanya.

Sareh bersyukur, dalam kondisi Covid-19 dia masih bisa bertahan. Bahkan dari delapan karyawannya semuanya tetap bekerja dan tidak ada yang dirumahkan. Kuncinya mau berinovasi dan menangkap peluang pasar yang ada. Untuk membuat face shield dibutuhkan material berupa plastik mika, karet elastis dan busa spon.

Seorang konsumen Kristanti Ika mengaku, datang untuk membeli faceshield. Kebetulan dia bekerja pada bagian pelayanan umum, sehingga butuh face shield untuk melindungi dari penularan Covid-19.

“Produknya bagus, harganya juga terjangkau,” katanya.


Editor : Kuntadi Kuntadi