Dinilai Tak Halal, Imunisasi DPT di Yogyakarta Belum Capai 100 Persen

Kuntadi ยท Senin, 18 Desember 2017 - 21:57:00 WIB
Dinilai Tak Halal, Imunisasi DPT di Yogyakarta Belum Capai 100 Persen
Imunisasi DPT di Kota Yogyakarta belum mencapai 100 persen karena masih ada penolakan dari orang tua balita. (Foto: Dok. iNews.id)

YOGYAKARTA, iNews.id - Pencapaian imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) di Kota Yogyakarta, DIY belum memenuhi target yang diharapkan. Dari data Dinas Kesehatan Yogyakarta, baru sekitar 90 persen anak-anak dan balita yang sudah mendapat imuniasi DPT. Dinas Kesehatan minta anak-anak diberikan imunisasi tambahan (vaksin booster).

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi  Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu mengungkapkan banyak alasan yang menjadikan pencapaian imunisasi DPT tidak bisa 100 persen.

"Ada sebagian masyarakat yang meragukan kehalalan vaksin, sering pindah tempat tinggal, hingga ada yang memilih imunisasi di luar negeri," kata Endang, Senin (18/12/2017).


Vaksin DPT, kata Endang, telah masuk program imunisasi nasional yang diberikan gratis pada bayi usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan. Setelah itu, vaksin booster pada anak usia 18 bulan dan kelas 1 SD. Adapun pencapaian vaksinasi booster baru mencapai sekitar 60 persen. “Kita imbau untuk melengkapi dengan vaksin booster tersebut untuk penguatan mengantisipasi penyakit difteri,” tuturnya.

Dinkes Kota Yogyakarta juga berusaha melakukan pendekatan persuasif terhadap bayi maupun anak yang belum diimunisasi secara lengkap. Menurut Endang, pada pelayanan kesehatan di wilayah sudah ada data bayi-bayi yang belum diimunisasi secara lengkap. Padahal jika ada anak yang tidak diimunisasi DPT rentan difteri dan berpotensi menularkan ke yang lain.

"Bagi anak yang usianya kurang dari lima tahun bisa mengakses vaksin DPT gratis di puskemas. Bagi orang dewasa yang belum pernah diberi vaksin DPT, dapat divaksin tapi tidak masuk imunisasi rutin, sehingga harus membayar sendiri," papar Endang.

Sampai saat ini RSUP dr Sardjito Yogyakarta telah menangani dua pasien yang diduga suspect difteri. Penyakit ini disebabkan virus corynebacterium diptheriae. Ciri-cirinya, pasien mengalami inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yakni demam tinggi, pusing, lemas, nyeri tenggorokan, nyeri untuk menelan hingga sulit bernapas.

Penyakit difteri rentan menyerang anak usia 1-5 tahun yang tidak diimunisasi maupun diimunisasi tapi tidak lengkap. Selain itu anak yang tidak diberikan ASI secara eksklusif  dan bayi positif HIV. Untuk pencegahan masyarakat diimbau melakukan pola hidup bersih dan sehat.

Editor : Kastolani Marzuki

Bagikan Artikel: