GeNose C19 Ternyata Masih Digunakan Selama PPKM Darurat

Antara · Selasa, 13 Juli 2021 - 14:46:00 WIB
GeNose C19 Ternyata Masih Digunakan Selama PPKM Darurat
GeNose diklaim masih digunakan di sektor kesehatan dan korporasi. (Foto Ilustrasi : Humas Unisa Yogya)

YOGYAKARTA, iNews.id- GeNose C19 dipastikan masih digunakan di Tanah Air selama penerapan PPKM darurat. Tim pengembang GeNose menyebut alat screening dan diagnostik Covid-19 berbasis embusan napas itu masih digunakan di sektor kesehatan dan korporasi. 

Anggota Tim Peneliti dan Pengembang GeNose C19 dr Dian Kesumapramudya Nurputra melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Selasa, menuturkan tidak digunakannya GeNose C19 pada koridor transportasi bukan berarti GeNose C19 tak lagi menjadi alat skrining Covid-19 alternatif di sektor-sektor lain.

"Yang tidak dipakai sementara itu hanya di transportasi, sementara yang di rumah sakit dan berbagai perusahaan, GeNose C19 masih terus dipakai," ujar Dian.

Saat ini, kata dia, tim pengembang masih terus mengevaluasi data hasil tes yang masuk melalui alat, juga kualitas pelayanannya. Proses validasi eksternal oleh Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia juga masih berjalan.

GeNose C19 dipasarkan pada Februari 2021 setelah lolos uji konsep dan uji klinis. Uji pasca pemasaran atau uji validasi eksternal sedang dijalani GeNose C19.

Dia mengatakan proses ketiga ujian tersebut sudah dan sedang dijalani sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia.

Menurut Dian, mengembangkan dan menerapkan teknologi inovatif seperti GeNose C19 memang penuh dengan tantangan. Metode "breath analyzer" atau "breathalyzer" di Indonesia untuk pemeriksaan penyakit belum terlalu populer di Indonesia.

Saat ini Amerika Serikat, Israel, Singapura, Belanda dan Perancis juga tengah mengembangkan alat yang serupa dengan GeNose C19.

"Tetapi sekali lagi desain keenam negara itu berbeda-beda. Sementara alat serupa di negara lain napas disemburkan langsung ke alat, GeNose C19 tidak. Metode semburan langsung itu memiliki kekurangan dan kelebihan dari sisi medis. Itulah kenapa GeNose tidak menyembur ke mesin, melainkan melalui kantong," kata Dian.

Teknik pemeriksaan penyakit melalui semburan napas itu bukanlah metode yang tidak dikenal sama sekali di dunia medis. Hal itu sudah dikembangkan sejak 2008 di banyak negara untuk memeriksa hasil metabolisme kanker paru, nasofaring, dan infeksi tukak lambung.

Suatu virus penyakit bisa diperiksa dengan melihat tiga hal yaitu dengan mengecek badan virus, reaksi tubuh terhadap virus, dan produk metabolisme dari virus tersebut.

Metode pertama diterapkan oleh tes PCR, kedua oleh antigen dan antibodi sedangkan GeNose C19 menerapkan pendekatan metode ketiga. Metabolisme virus dideteksi GeNose C19 dalam bentuk Volatile Organic Compound (VOC).

Hasil pengujian GeNose C19 terbagi ke dalam empat jenis yaitu positif lemah, positif kuat, negatif lemah serta negatif kuat. Hasil tersebut berkaitan dengan kemungkinan kapan pasien uji terpapar Covid-19.

Jika pengguna bergejala dan sudah beberapa hari terpapar Covid-19, GeNose C19 akan membaca VOC dari sampel napas pengguna tersebut sebagai positif kuat.

"Semua alat tes itu pasti ada negatif dan positif palsunya, maka penting untuk menilai hasil tes sesuai dengan kapasitas alat tes itu dan ada tidaknya gejala di pasien," ungkap Dian.

Jika pasien uji mendapati hasil tes GeNose C19 sebagai positif, menurut dia, pasien perlu mengulang tes tersebut di hari berikutnya dengan GeNose C19 pula untuk memastikan. Jika masih juga positif, pasien dapat langsung jalani tes PCR.

Editor : Ainun Najib

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: