Libur Tahun Baru Islam, Kunjungan Monumen Jogja Kembali Meningkat

Antara ยท Jumat, 21 Agustus 2020 - 08:43 WIB
Libur Tahun Baru Islam, Kunjungan Monumen Jogja Kembali Meningkat
Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) (Foto: Instagram/ monjaliyogyakarta)

YOGYAKARTA, iNews.id - Jumlah wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami peningkatan pada hari pertama libur panjang Tahun Baru Islam 1442 Hijriah. Tercatat 80 orang mengunjungi Monjali pada Kamis (20/8/2020).

Kepala Urusan Humas, Pemandu, dan Pemasaran Monjali, Abdul Rauf mengatakan, pada hari biasanya hanya ada 25 pengunjung. Namun, di libur tahun baru Islam banyak pengunjung dari berbagai daerah datang ke Monjali.

"Biasanya sejak pertama buka selama pandemi rata-rata hanya 25 pengunjung sehari," kata Rauf.

Menurut dia, sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke monumen sejarah perjuangan itu justru berasal dari luar daerah.

"Mereka kebanyakan rombongan keluarga. Kalau rombongan sekolah belum ada," ucapnya.

Rauf mengakui tidak mudah menarik pengunjung seperti saat sebelum pandemi. Apalagi, pihak pengelola juga harus membatasi jumlah pengunjung dengan protokol kesehatan yang ketat untuk menghindari penularan Covid-19.

"Prinsipnya akan kami ukur dengan 'thermo gun'. Kalau suhu tubuh (wisatawan) melebihi batas yang ditentukan akan kami tolak," ucapnya.

Meski demikian, dia meyakini selama libur panjang empat hari ke depan jumlah wisatawan akan terus meningkat. Pasalnya, pada libur akhir pekan yang bertepatan pada nomentum libur HUT ke-75 RI jumlah pengunjung bisa mencapai 300 orang.

"Saya yakin jumlah pengunjung bisa lebih banyak karena cuti bersama juga lebih panjang," kata Rauf.

Menurutnya, Monumen Jogja Kembali sempat menutup operasional selama empat bulan tutup sejak 18 Maret 2020 karena pandemi Covid-19. Dia menyebutkan jumlah koleksi benda bersejarah yang ada di Monjali hingga saat ini sebanyak 1.000 koleksi dengan harga tiket masih tetap Rp10.000 per orang.

Berbagai koleksi itu termasuk diorama andalan yang secara keseluruhan menggambarkan situasi saat perang kemerdekaan sekitar 1945-1949 hingga Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia.


Editor : Nani Suherni