get app
inews
Aa Text
Read Next : 3 Jalur Alternatif ke Gunungkidul Ini Jadi Favorit Wisatawan Lokal, Cocok untuk Weekend Trip

Maknai Nasionalis, Pelaku UMKM di Gunungkidul Ciptakan Kerupuk Warna Merah Putih

Jumat, 05 Agustus 2022 - 14:30:00 WIB
Maknai Nasionalis, Pelaku UMKM di Gunungkidul Ciptakan Kerupuk Warna Merah Putih
Supriyadi sedang memproduk kerupuk Merah Putih di rumahnya. (Foto: MPI/erfan Erlin)

GUNUNGKIDUL, iNews.id - Banyak cara dilakukan masyarakat untuk mengenang sejarah dan memaknai Kemerdekaan Indonesia. Seperti yang dilakukan perajin kerupuk di Gunungkidul yang memproduksi kerupuk spesial warna merah putih.

Kerupuk “ndeso” diproduksi dua warga di Dusun Karangmojo 1 RT 04 RW 07 Kalurahan Karangmojo Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul. Salah satunya Supriyadi yang sudah menekuni usaha ini sejak tahun 1980. Pria yang berusia 42 tahun ini, selama bulan Agustus memperbanyak produksi kerupuk merah putih.

“Kalau setiap Agustus saya memperbanyak produksi kerupuk merah putih,” kata Supriyadi, Jumat (4/8/2022). 

Menurut bapak dua anak ini, usaha kerupuk merupakan usaha turunan orang tuanya. Biasanya dia lebih banyak memproduksi kerupuk dengan warna putih. Hanya di bulan Agustus dia memperbanyak produksi dengan diberi warna merah. 

Proses produksinya juga sama dengan kerupuk putih. Bedanya hanya diberikan pewarna makanan merah pada padonan agar warna merahnya muncul. 

“Jadi di adonan ditambah pewarna agar muncul warna merah,” katanya.

Menurut dia, apa yang dilakukan dilatarbelakangi rasa cintanya kepada tanah air. Ia mengaku sangat bangga menjadi bagian bangsa Indonesia. Kebanggan tersebut ia tuangkan dalam mata pencaharian satu-satunya tersebut.

"Nasionalisme harus kita pupuk dan kita bangkitkan kepada semua generasi bangsa ini. Dan saya sengaja membuat kerupuk merah putih karena bangga sebagai bangsa Indonesia. Saya ingin mengingatkan ke semuanya tentang nasionalisme itu melalui kerupuk," kata Supri.

Kerupuk yang diproduksi berbahan baku tepung tapioka. Semua proses dia lakukan secara manual dan dikerjakan bersama istrinya. Mulai dari membuat adonan, mencetak, mengukus, menjemur hingga menggoreng. 

Setiap dua hari sekali dia memproduksi sebanyak 25 kilogram tepung tapioka. Semua peralatan yang ia gunakan juga sudah berusia tua. Tempat mencetak, bejana untuk mengkukus hingga kerombong (tempat kerupuk) umurnya lebih dari 60 tahun. 
  
Kerupuk ini memiliki rasa yang sangat gurih. Walaupun krupuk jadul, namun kerupuk ini tak pernah sepi peminat. Kerupuk ini bahkan memiliki penggemar setia sehingga tak pernah sepi pembeli.  

"Permintaan selalu stabil, kecuali mendekati lebaran itu naik drastis. Banyak pemudik dari Jakarta yang membeli mentah dan nanti digoreng di rumah,"terang dia.

Supri mengaku kesulitan untuk melakukan regenerasi pembuatan kerupuk tersebut. Karena cukup sering ia menerima teman atau tetangga yang ingin belajar membuat kerupuk. Namun belum selesai mencetak satu adonan, mereka sudah menyatakan menyerah.

"Kami gunakan mesin pencetak adonan dengan diduduki, banyak yang tidak kuat duduk terlalu lama,” katanya.

Editor: Kuntadi Kuntadi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut