Mudik karena Tak Ada Pekerjaan di Cikarang, Warga Bantul: Bertahan di Sana Berat

Agregasi Harianjogja ยท Rabu, 27 Mei 2020 - 06:43 WIB
Mudik karena Tak Ada Pekerjaan di Cikarang, Warga Bantul: Bertahan di Sana Berat
Mobil travel membawa pemudik terjaring penyekatan di jalan arteri yakni di depan Pasar Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2020). (Foto: iNews/Tata Rahmanta)

YOGYAKARTA, iNews.id - Kegiatan penyekatan kendaraan di area perbatasan telah dilakukan sejumlah daerah untuk menghalau pemudik. Namun, nyatanya masih ada pemudik yang lolos dari pemeriksaan.

Salah satunya H, warga Kecamatan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dia merupakan seorang pekerja kontruksi baja di Cikarang, Jawa Barat. H terpaksa pulang jelang Idul Fitri lantaran sudah tidak ada pekerjaan lagi.

Dia mengaku berat apabila harus tinggal di sana dengan kondisi tidak punya pekerjaan. Pilihan terbaik untuk bertahan yakni dengan pulang ke kampung halaman. Di kampung halaman, telah menunggu istri dan ketiga orang anaknya .

"Mau bertahan di sana berat juga dengan biaya hidup tinggi. Masih ngontrak lagi," katanya dilansir dari Harianjogja.com, Rabu (27/5/2020).

Dia tak sendiri, kondisi serupa juga menimpa pekerja lain. Ada yang putus kontrak, ada yang dirumahkan tanpa kejelasan batas waktu, dan ada pula yang mendapat pemutusan hubungan kerja (PHK). Pilihan mereka pun serupa yakni pulang ke kampung halaman.

H berangkat dari Cikarang menuju Bantul hari Rabu (21/5/2020) dengan menumpang mobil travel. Kata H, tak sulit menemukan layanan travel yang menawarkan jasa mudik. Layanan itu bisa ditemukan di situs daring atau jejaring sosial.

"Banyak travel-travel yang menawarkan secara online," ujarnya.

Ketika ditanya soal penyekatan kendaraan, H mengaku tidak menemuinya selama perjalanan. Pemeriksaan memang terbilang ketat, terutama di wilayah Cikarang yang merupakan perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Namun, supir yang mengantar H memutuskan berangkat saat malam hari dengan pertimbangan saat itu para petugas penyekatan sedang beristirahat. Jalur alternatif atau jamak disebut jalan tikus kerap pula ditempuh untuk menghindari pos pemeriksaan. H pun tiba di Bantul esok harinya, Kamis siang (22/5/2020) dengan kondisi sehat dan selamat.

Satu hari berselang, Jumat (23/5/2020) H menjalani tes cepat atau rapid diagnostic test di Puskesmas Sewon 1. Beruntung, hasilnya nonreaktif. Kini dia sedang menjalani isolasi mandiri. Untuk sementara ia harus tinggal terpisah dengan istri dan ketiga orang anaknya.

"Kami semua memang tinggal di Bantul. Sekarang saya masih karantina selama 14 hari. Untuk sementara saya harus jauh dari anak dan istri," katanya.

Ditemui terpisah, Perwira Lapangan dari Dishub DIY, Irfan Wijaya mengatakan banyak pengemudi yang tidak mematuhi syarat-syarat perjalanan. Tindakan tegas berupa putar balik pun diterapkan. Hanya saja, dia tak menampik saat ini pemudik maupun pengendara lebih pintar dari petugas.

Mereka berangkat dengan memilih waktu saat petugas pos penyekatan sedang istirahat. Hanya saja, petugas tetap akan menindak dengan tegas apabila ada pengemudi yang tidak memenuhi syarat perjalanan. Kebijakan larangan mudik itu perlu didukung juga oleh kesadaran masyarakat.

"Saya minta kepada masyarakat agar tetap mematuhi kebijakan pemerintah," katanya.

Artikel ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul "Tak Punya Pekerjaan, Warga Bantul Pilih Mudik"


Editor : Nani Suherni