Pemkab Kulonprogo Terus Dekati Warga Penolak Bandara Baru Yogya

Kuntadi ยท Minggu, 14 Januari 2018 - 23:15 WIB
Pemkab Kulonprogo Terus Dekati Warga Penolak Bandara Baru Yogya
Warga dan relawan penolak proyek bandara baru Yogyakarta menanam pohon pisang di lokasi calon bandara. (Foto: Dok.iNews.id)

KULONPROGO, iNews.id – Pembebasan lahan bandara baru Yogyakarta atau New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo belum tuntas. Masih ada sebagian warga yang menolak untuk dilakukan land clearing (pengosongan lahan). Warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran (PWPP Kulonprogo) bahkan masih bertahan di rumah dan lahan mereka.  

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengakui masih ada sebagian warga yang menolak rencana pembangunan bandara. Pemkab sebenarnya sudah membuka pintu komunikasi dan dialog. Namun keinginan ini belum bisa terealisasi karena warga belum bersedia ditemui dengan berbagai alasan. “Kita siap bertemu langsung untuk mendengar maunya warga seperti apa,” kata Hasto, Minggu (14/01/2018).

Pemkab Kulonprogo, kata dia, telah mengantongi data detail terhadap 32 kepala keluarga (KK) yang ada di Desa Palihan dan Glagah yang masih bertahan. Pemkab juga sudah berkoordinasi dengan PT Angka Pura (AP) I dan PT PP, serta tim percepatan internal pemkab untuk menyaring data bidang tersisa.

Secara umum, kata Hasto, tinggal satu persen lahan yang belum tuntas untuk dibebaskan. Dari hasil koordinasi bisa disaring ke dalam dua kelompok bidang tanah yang belum tuntas.

Yakni, bidang yang belum terbayarkan karena masih diproses pengadilan (konsinyasi), serta bidang tanah yang oleh warganya menolak tanpa syarat. “Yang pokoke (penolak tanpa syarat), akan kita manage tersendiri,” ucap Hasto.

Dari warga yang masih menolak ada beberapa alasan. Mulai meminta penambahan harga tanah ataupun menolak pindah karena tidak mau direpotkan urusan seperti pengurusan ganti rugi dan proses pembebasannya. Ada sekitar 17 KK yang belum diketahui.

Humas PWPP-KP, Agus Widodo mengatakan warga sudah merasa nyaman dan memiliki keterikatan historis dengan tempat tinggalnya saat ini. Hal inilah yang menjadi alasan utama warga menolak tanpa syarat pembangunan bandara. Warga tetap ingin hidup di lingkungannya sekarang dan bercocok tanam di ladang, sawah, serta pekarangan yang dimilikinya. “Kita mau saja ditemui, tetapi sikap kita tetap menolak tempat tinggal dan lahan digusur untuk bandara,” katanya.

Pada Desember 2017 lalu, perwakilan Pemkab Kulonprogo dan PT Angkasa Pura I sudah menemui warga. Namun rombongan diusir karena hanya membicarakan arti penting bandara. “Pembangunan bandara sudah mengusik kehidupan kami. Kami tidak pernah ada niat,” katanya.

Agus memastikan penolakan warga tidak ada yang dilatarbelakangi masalah tawar menawar harga. Warga menolak karena memang sudah nyaman dan tidak mau kehidupannya terganggu. 

Selama dua hari ini warga penolak bandara dibantu relawan memperbaiki kembali akses jalan yang ditutup PT Angkasa Pura I. Warga juga menanam tanaman produktif seperti pohon pisang di lahan mereka.


Editor : Kastolani Marzuki