Ponpes Jadi Klaster Covid-19, Epidemiolog UGM: Itu Kumpulan Orang dari Berbagai Daerah

Nani Suherni ยท Rabu, 07 Oktober 2020 - 13:23:00 WIB
Ponpes Jadi Klaster Covid-19, Epidemiolog UGM: Itu Kumpulan Orang dari Berbagai Daerah
Ilustrasi masker. (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA, iNews.id - Pakar Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Citra Indriani menyebutkan asrama maupun pondok pesantren jadi area rentan terjadinya klaster penyakit menular, termasuk Covid-19. Di dua tempat tersebut banyak orang yang berasal dari berbagai wilayah datang untuk tinggal/hidup bersama dalam jangka waktu yang lama.

“Di asrama atau pun pondok pesantren berkumpul orang dari berbagai daerah. Hal ini berisiko mempertemukan orang infeksius dengan mereka yang masih rentan,” katanya dikutip dari website resmi UGM, Rabu (7/10/2020).

Hal itu dia sampaikan menanggapi soal ratusan santri yang berasal dari tiga pesantren di Kabupaten Sleman positif terinfeksi Covid-19. Sebelumnya, penularan virus corona juga telah terjadi di sejumlah pondok pesantren di Pulau Jawa dan penularan Covid-19 antar siswa juga terjadi pusat pendidikan Secapa AD di Jawa Barat.

Dosen FKKMK UGM ini menyampaikan upaya pencegahan penularan Covid-19 baik di asrama maupun pondok pesentren sangat dimungkinkan. Cara pencegahan utama yang bisa dilakukan yakni dengan menerapkan protokol kesehatan.

Lantas apakah aman jika asrama maupun pesantren tetap beroperasi selama pandemi Covid-19? Citra mengatakan tidak masalah jika asrama atau pesantren ingin memulai pendidikan di tengah pandemi. Namun begitu, dia menekankan dalam pelaksanaannya harus mematuhi atau melaksanakan protokol kesehatan secara ketat. Selain itu, kegiatan pendidikan dilakukan secara perlahan dan bertahap.

Sebelum mulai mengikuti pendidikan, lanjutnya, langkah awal yang sebaiknya dilakukan pengurus asrama atau pesentren yakni dengan menerapkan karantina mandiri pada siswa baru atau siswa yang baru kembali ke asrama atau pesantren. Karantina dilakukan di kamar tersendiri yang tidak bercampur satu sama lain hingga 14 hari pengamatan.

“Membuat kondisi asrama atau pesantren membudayakan protokol kesehatan tidaklah mudah, tapi bukan berarti tidak bisa karena semua butuh waktu," ucapnya.

"Tak hanya itu risiko buka tutup kelas tatap muka juga harus dipahami oleh penyelenggara pendidikan, formula yang tepat seperti apa perlu didiskusikan dengan Dinkes masing-masing,” katanya.

Editor : Nani Suherni