Ratusan Penyintas Talasemia Dilatih Kemampuan Dasar Bisnis Online di Sleman

Kuntadi ยท Kamis, 22 Agustus 2019 - 23:12 WIB
Ratusan Penyintas Talasemia Dilatih Kemampuan Dasar Bisnis Online di Sleman
Suasana pelatihan edukasi dan literasi bagi ratusan penyintas talasemia di Sleman, DIY, Rabu (21/8/2019). (Foto: iNews.id/Kuntadi)

SLEMAN, iNews.id – Ratusan penyintas talasemia atau penyakit gangguan genetik mendapat pelatihan edukasi dan literasi pemasaran digital di Sleman, DIY. Kegiatan ini digagas PT Wahana Ottomitra Multiartha (Tbk) atau dikenal dengan WOM Finance.

NDS MotorKu Division Head WOM Finance Rizky Ria Maulina mengatakan, pelatihan ini untuk memotivasi para penyintas talasemia di Indonesia agar dapat menjadi insan produktif. Tentunya juga menjadikan mereka mandiri dan bisa berprestasi.

"Edukasi dan literasi ini kami berikan agar mereka memiliki bekal dalam bekerja,” ujar Rizky dalam seminar ‘Indonesia Merdeka, Indonesia Cerdas Digital’ di Kaliurang, Sleman Yogyakarta, Rabu (21/8/2019).

Perusahaannya terdorong untuk mendukung para penyintas talasemia. Mereka kerap mengalami keterbatasan, namun harus terus dimotivasi untuk bekerja dan berkarya.

Menurutnya, dalam era digital seperti saat ini, siapun bisa berkembang dan memenangkan persaingan. Tanpa harus bertemu, mereka bisa melakukan transaksi perdagangan secara online. Di sinilah para penyintas talasemia diberikan kesempatan untuk berkembang.

WOM Finance juga membuka kesempatan kepada mereka untuk mendapat penghasilan. Salah satunya menjadi free agent. Mereka tidak dibebani dengan target penjualan. Namun setiap penjualan mereka akan mendapatkan komisi.

“Dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa memasarkannya secara online,” katanya.

Ketua Yayasan Thallasaemia Indonesia (YTI) Ruswandi mengapresiasi pelatihan edukasi dan literasi ini. Selama ini perhatian pemerintah terhadap penyakit ini masih belum maksimal.

“Ini sangat bermanfaat bagi kami,” katanya.

Penyintas talasemia di Indonesia tergolong besar. Setiap tahunnya meningkat 8-10 persen. Ironisnya, sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu. Biaya pengobatan penyintas talasemia ini besar. Mereka harus terus-menerus melakukan transfusi darah setiap bulan sepanjang hidupnya.

“Mereka sangat butuh pekerjaan untuk pengobatan atau menjalani hidup sehari-hari,” tuturnya.

Diketahui, seminar ini menggandeng Yayasan Thallasaemia Indonesia (YTI) Jateng–DIY dan diikuti 250 penyintas talasemia dari Yogyakarta, Solo, Banyumas, Klaten, Purbalingga, Semarang dan Wonosobo.


Editor : Donald Karouw