Sejarah Sekaten, Peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Hanna Ratih Aninditya ยท Sabtu, 01 Oktober 2022 - 22:00:00 WIB
Sejarah Sekaten, Peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Sejarah upacara sekaten, salah satu upacara tradisional yang berkembang dalam hiruk pikuk kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto: perpusnas.go.id).

KOTA YOGYAKRTA, iNews.id- Sejarah upacara sekaten, salah satu upacara tradisional yang berkembang dalam hiruk pikuk kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara Sekaten, yaitu upacara tradisional yang diselenggarakan sebagai bentuk untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Upacara sekaten biasanya diselenggarakan secara periodik dalam setahun sekali pada setiap 5-11 Rabi’ul Awal yang jika berada dalam kalender Jawa biasanya disebut dengan bulan Mulud. 

Upacara sekaten akan ditutup pada 12 Rabi’ul awal dengan diadakannya upacara garebeg mulud.

Sejarah Upacara Sekaten

Hakikatnya upacara sekaten merupakan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang. Awalnya upacara sekaten diselenggarakan setiap tahun oleh para raja-raja yang berada di tahah Hindu. 

Upacara ini berwujud dengan selamatan atau sesaji yang disajikan untuk arwah para leluhur. Namun, seiring perkembangannya, upacara sekaten menjadi sarana yang berperan dalam menyebarkan agama Islam melalui kegiatan kesenian gamelan. 

Penyebaran agama Islam menggunakan media perantara berupa kesenian gamelan karena kala itu masyarakat cukup menggemari kesenian budaya Jawa dengan gamelannya. Akhirnya sebagai bentuk untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tidak lagi menggunakan media kesenian rebana melainkan dengan menggunakan kesenian gamelan.

Penyebaran agama Islam di Jawa diprakarsai oleh para wali yang terkenal dengan wali songo. Nama-nama wali songo, yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati, Sunan Muria, Syekh Maulana Maghribi dan Syekh Siti Jenar. 

Masih berkaitan dengan cerita tersebut, penyebaran agama Islam yang menggunakan kesenian gamelan, kemudian Kanjeng Sunan Kalijaga membuat alat seperangkat gamelan yang diberi nama sebagai Kiai Sekati. Sebagai upaya untuk turut memeriahkan perayaan Nabi Muhammad SAW, gamelan Kiai Sekati ditempatkan pada halaman Masjid Demak. 

Gamelan itu dipukul bertahun-tahun lalu dalam perayaan untuk memperingan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan digunakan kesenian gamelan yang sangat menarik perhatian masyarakat dari kalangan berbagai penjuru. 

Momen acara berkumpulnya banyak orang tersebut akhirnya dimanfaatkan sebagai wahana oleh para wali untuk menyampaikan ajaran agama Islam dengan cara memberikan ceramah atau wejangan mengenai agama Islam.

Para pengunjung yang datang diperbolehkan untuk masuk dan duduk pada serambi masjid dengan membaca syahadatain terlebih dahulu. Para pengunjung yang berada di halaman masjid diajak untuk membasuh tangan, muka, kaki menggunakan air kolam luar dari serambi masjid.

Editor : Kurnia Illahi

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: