get app
inews
Aa Text
Read Next : Cerita IRT Obesitas di Parepare Berbobot 200 Kg, Sulit Berdiri Hanya Bisa Ngesot

Sempat Terpuruk karena Covid-19, Booming Tanaman Hias Bangkitkan Perajin Gerabah Bantul

Kamis, 19 November 2020 - 15:15:00 WIB
Sempat Terpuruk karena Covid-19, Booming Tanaman Hias Bangkitkan Perajin Gerabah Bantul
Permintaan produk gerabah meningkat seiring booming tanaman hias. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

BANTUL, iNews.id – Sempat terpuruk di awal masa pandemi Covid-19, para perajin gerabah yang ada di Kasongan, Bantul mulai bangkit. Mereka banyak mendapat pesanan pot seiring tren menanam tanaman hias.

Salah satu perajin gerabah, Rahmat Sholeh (35) mengatakan, pada awal masa pandemi Covid-19 perajin benar-benar terpuruk. Selama empat bulan dari Maret sampai Juli, mereka kesulitan untuk bertahan hidup karena tidak ada modal dan pesanan terhenti.

Saat itu sejumlah negara menerapkan kebijakan lockdown, sehingga barang yang sudah jadi hanya ditumpuk di gudang. Perajin tidak bisa mengirimkan produk yang dihasilkan. Sedangkan modalnya habis tertanam pada produk itu. Sementara pasar dalam negeri juga stagnan.

“Dari Maret sampai Juli merupakan masa sulit, modal tidak ada barang tak bisa diputar,” kata Sholeh.

Harapan mulai muncul ketika pemerintah mulai menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Saat itu pesanan dari pasar lokal mulai berdatangan untuk produk tempat cuci tangan atau wastafel. Tidak sedikit yang memburu padasan sebagai tempat cuci tangan.

“Memasuki new normal, baru muncul pesanan wastafel atau padasan,” ujar pemilik Nurya Craft ini.

Industri gerabah kembali cerah memasuki bulan Oktober seiring booming tanaman hias. Banyak orang datang untuk mencari pot dari berbagai bentuk dan ukuran. Tidak hanya dari seputaran Yogyakarta, namun permintaan juga dari Jakarta, Sidoarjo sampai di Makassar.

Permintaan pot ini akan terjadi saat libur akhir pekan. Sepanjang jalan di Kasongan dipenuhi dengan mobil konsumen yang mencari pot. Harga yang ditawarkan mulai dari harga Rp10.000 sampai di atas Rp100.000 tergantung ukuran dan tingkat kesulitan.

“Saat akhir pekan bisa ratusan yang dijual. Motifnya banyak dan harga disini cenderung lebih murah,” katanya.

Perajin yang lain, Darmono mengaku kewalahan untuk memenuhi permintaan pot dari konsumen. Pembuatan pot masih dilakukan secara manual. Sedangkan konsumen permintaan semakin beragam dengan berbagai motif.

“Hampir semua perajin disini kebanjiran order. Permintaan pot ini menjadi tertinggi sepanjang musim,” katanya.

Editor: Kuntadi Kuntadi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut