Waduh, Covid Bisa Timbulkan Efek Jangka Panjang

Ahmad Islamy Jamil ยท Rabu, 13 Januari 2021 - 22:42:00 WIB
Waduh, Covid Bisa Timbulkan Efek Jangka Panjang
Petugas medis melintasi ruang isolasi di RSUP Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta. (Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah)

SINGAPURA, iNews.id – Hati-hati. Sebuah studi terbaru menunjukkan, tiga dari empat pasien masih mengalami gejala enam bulan setelah mereka jatuh sakit karena Covid. Kebanyakan yang mereka rasakan adalah kelelahan atau lemah otot. 

Sekitar 63 persen responden dalam riset itu menyebut gejala itu sebagai penyakit yang menetap. Masalah umum lainnya yang dialami pasien pascainfeksi adalah kesulitan tidur (26 persen), dan kecemasan atau depresi (23 persen). Jumlah pasien perempuan yang mengalami gejala sakit itu lebih banyak daripada pria.

Hasil penelitian terhadap 1.733 pasien dengan usia rata-rata 57 tahun dari Rumah Sakit Jin Yin-tan di Wuhan, China, itu boleh dibilang penelitian terbesar yang dilakukan hingga saat ini. Riset itu diterbitkan dalam jurnal The Lancet, minggu lalu. 

Kelompok responden dalam penelitian itu berasal dari 2.469 pasien Covid-19 yang keluar dari RS antara Januari dan Mei, dengan tindak lanjut perawatan (kontrol) dilakukan dari Juni hingga September. Sebanyak 736 pasien dikeluarkan dari penelitian itu karena mereka tidak menghadiri janji kontrol dengan dokter karena berbagai alasan, termasuk demensia. 

Ada juga 33 orang yang meninggal setelah pulang dari RS, terutama karena eksaserbasi penyakit paru, jantung, dan ginjal.

Studi tersebut menemukan bahwa lebih dari separuh pasien memiliki kelainan pencitraan zat sisa pada dada mereka enam bulan setelah mendpat penyakit Covid-19. Gangguan lebih besar dirasakan oleh mereka yang sakitnya lebih parah.

Sekitar satu dari empat pasien tidak dapat berjalan dalam jarak yang sama dalam enam menit dibandingkan dengan sebelum mereka tertular Covid-19. Temuan tersebut berdasarkan laporan dari pasien sendiri. 

Studi itu juga mengungkapkan, beberapa pasien memiliki masalah yang terus-menerus dengan fungsi ginjal mereka. Dalam enam bulan sejak terinfeksi virus corona baru atau Covid-19, sejumlah pasien menderita diabetes, atau mengalami pembekuan darah yang memengaruhi jantung atau otak mereka.

Beberapa masalah yang berlanjut itu sekaligus mencerminkan bahwa gejala yang sama juga dialami para pasien yang selamat dari SARS pada 2003. Seperti diketahui, SARS adalah sindrom pernapasan akut parah yang juga disebabkan oleh virus corona.

Para peneliti di Kanada menemukan bahwa sepertiga dari pengidap SARS mengeluhkan kesehatan mental yang lebih buruk setahun setelah infeksi. Sebanyak 40 persen pasien SARS di negara itu juga mengalami kelelahan kronis selama rata-rata 41,3 bulan. 

Ahli penyakit menular dari Singapura, Dr Asok Kurup mengatakan, efek begitu panjang yang dialami pasien setelah terinfeksi parah memang pernah terjadi, meskipun hal itu tidak umum. 

“Influenza parah, terutama pada mereka yang berakhir dengan gagal napas, dapat diikuti oleh masalah pernapasan yang membutuhkan waktu lama untuk pulih,” tuturnya, dikutip dari The Straits Times, Rabu (13/1/2021). 

“Beberapa jenis adenovirus kadang-kadang dapat menyebabkan gagal pernapasan dan bahkan gagal ginjal, dan kami telah melihat beberapa kasus membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih,” ucap Dr Kurup. 

Dia mengatakan, para dokter di Singapura saat ini sedang memeriksa beberapa pasien yang telah pulih dari Covid-19, tetapi masih mengalami masalah pernapasan.

Sementara, konsultan senior penyakit menular di Rumah Sakit Universitas Nasional Singapura, Profesor Dale Fisher, meyakini adanya long Covid atau gejala yang dialami mantan pasien Covid-19 dalam waktu lama. 

“Saya percaya bahwa apa yang disebut ‘Covid jangka panjang’ itu memang ada. Akan tetapi, sulit untuk mengklaim semua gejala itu sepenuhnya kepada Covid-19 secara khusus, tanpa penelitian lebih lanjut,” ucapnya. 

Dia menuturkan, kecemasan, depresi, serta gangguan tidur saat ini lebih umum dirasakan, bahkan pada orang-orang tanpa Covid-19 sekalipun. Akan tetapi, temuan-temuan objektif seperti perubahan hasil pemeriksaan radiologis pada dada, serta penurunan fungsi ginjal itu sulit untuk diperdebatkan, jika bukan akibat Covid.

“Tapi pengaruhnya untuk jangka waktu yang lebih lama masih belum diketahui,” kata Fisher. 

“Saya tidak mengerti, mengapa banyak orang lebih khawatir dengan vaksin dibandingkan dengan mengkhawatirkan Covid-19 itu sendiri. Padahal, ada risiko efek jangka panjang (ketika sudah terinfeksi) Covid-19, yaitu kelelahan, sesak napas, gangguan tidur, kecemasan, depresi, kerusakan ginjal, dan paru-paru yang terluka,” ujarnya.

Editor : Ainun Najib