Polisi Rwanda menembak mati seorang tentara Kongo yang melintasi perbatasan. (Foto: Reuters)
Umaya Khusniah

GOMA, iNews.id - Kontak tembak terjadi antara Polisi Rwanda dan tentara Kongo. Peristiwa ini membuat seorang tentara Kongo tewas. 

Kontak tembak ini dipicu oleh tentara Kongo yang melintasi perbatasan. Tentara tersebut dilaporkan juga menembaki petugas keamanan perbatasan Rwanda. 

Menurut sumber di militer Rwanda pada Jumat (17/6/2022), bentrokan itu terjadi di dekat daerah di mana tentara Kongo memerangi pemberontak M23.

Ketegangan antara dua negara bertetangga di Afrika Tengah telah meningkat. Rwanda menyebut, kelompok pemberontak M23 yang didukung oleh Kongo terus melakukan serangan. Sebaliknya, Rwanda membantah telah mendukung kelompok itu. 

Dilaporkan oleh kata Pasukan Pertahanan Rwanda (RDF), seorang tentara Kongo bersenjatakan senapan AK-47 memasuki Rwanda pada Jumat pagi. Dia menembakkan peluru ke personel keamanan dan warga sipil Rwanda.

Dikatakan dalam sebuah pernyataan, baku tembak terjadi di pos perbatasan Petite Barriere. Dua petugas polisi Rwanda terluka. Seorang petugas yang bertugas menembak balik tentara tersebut. Dia tewas di jarak 25 meter di dalam wilayah Rwanda.

Pos perbatasan itu berada di timur kota Goma, sekitar 55 km (34 mil) dari kota Bunagana yang jatuh ke tangan M23 minggu ini. M23 telah melancarkan ofensif berkelanjutan di perbatasan timur Kongo sejak menguasai sebagian besar wilayah pada 2012-2013.

Seorang komandan militer yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters, kelompok itu memperoleh keuntungan lebih lanjut setelah merebut kota Tshengerero, sebelah timur Bunagana. Kelompok itu memaksa tentara keluar dari tiga posisi

"Kota ini berada di tangan pemberontak. Mereka ada di mana-mana, ratusan pria bersenjata," kata kepala kelompok masyarakat sipil setempat, Jean-Baptiste Twizere.

Kongo menuduh Rwanda secara aktif mendukung M23. Rwanda menyangkal hal ini dan sebaliknya mengklaim bahwa Kongo berjuang bersama FDLR, sebuah kelompok bersenjata yang dijalankan oleh etnis Hutu yang melarikan diri dari Rwanda setelah mengambil bagian dalam genosida tahun 1994. 

Kenya pada hari Rabu menyerukan pengerahan pasukan militer regional baru untuk menghentikan kekerasan pemberontak di wilayah tersebut.


Editor : Ainun Najib

BERITA TERKAIT