Ilustrasi nyamuk demam berdarah dengue. (Foto: Ilustrasi/Ist.)
erfan erlin

SLEMAN, iNews.id - Kasus demam berdarah dengeu (DBD) di Kabupaten Sleman meningkat. Sampai bulan Agustus lalu tercatat sudah ada 236 kasus, satu di antaranya meninggal dunia.  

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati menyebut, kasus DBD di Sleman terhitung fluktuatif dari waktu ke waktu. Namun, tahun ini jumlah kasus DBD di Sleman ternyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

"Jadi di tiap-tiap bulan yang sama itu tahun ini justru lebih banyak dibanding tahun sebelumnya," kata dia, Jumat (30/9/2022).

Ia mencontohkan, pada Januari 2021 diketahui ada 27 kasus DBD sedangkan Januari 2022 ada 80 kasus. Sedangkan di Mei 2021 tercatat 23 kasus dan meningkat menjadi 41 kasus tahun ini. 

Berikutnya, pada Juni 2021 ada 19 kasus dan tahun ini ada 27 kasus. Pada bulan Juli 2021 ada 10 kasus dan Juli 2022 naik menjadi 26 kasus. Selanjutnya Agustus 2021 terdapat 9 kasus. 

"Jumlah kasus DBD pada Agustus 2022 mencapai 17 kasus," terangnya.

Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama mengatakan, untuk menekan kasus DBD di Sleman. Sebenarnya, di Sleman sudah ada program satu rumah satu juru pemantau jentik. Program pencegahan DBD bisa ditempuh pula dengan saling mengingatkan antar bertetangga.

"Kami terus mengingatkan untuk menerapkan 3M dan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal," kata dia.

Menjaga kebersihan bukan hanya menjadi upaya mencegah DBD, melainkan juga penyakit lainnya yang penularannya berbasis lingkungan. Selain kebersihan lingkungan dan tingginya mobilitas masyarakat, DBD di Sleman juga dipengaruhi karena adanya penularan antar orang. 

“Nyamuk Aedes Aegypti ini sifatnya multiple bites. Di kawasan padat penduduk harus aktif melakukan gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk),” ujarnya. 


Editor : Kuntadi Kuntadi

BERITA TERKAIT