Pejuang Gaza menembakkan lebih dari 100 roket ke Israel. Ini sebagai balasan atas serangan tentara zionis yang menewaskan 10 warga Gaza. (Foto : Reuters)
Anton Suhartono

MOSKOW, iNews.id - Serangan udara Israel ke Jalur gaza menewaskan 10 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya pada Jumat (5/8/2022). Membalas serangan itu, para pejuang Gaza pun menembakkan lebih dari 100 roket ke Israel meski semua tak mengenai target.

Mendapat serangan roket ini Pemerintah Kota Tel Aviv membuka semua tempat perlindungan atau bungker menyusul operasi militer ke Jalur Gaza

Tel Aviv sebenarnya berlokasi cukup jauh dari Gaza, namun beberapa serangan sebelumnya roket-roket para pejuang Palestina mampu menjangkau wilayah tersebut.

"Semua tempat perlindungan bom dibuka," demikian pernyataan pemerintah Tel Aviv, di Facebook.

Sebelumnya pasukan Pertahanan Israel (IDF) meluncurkan operasi Breaking Dawn untuk melawan kelompok Jihad Islam di Jalur Gaza. 

Seranga rudal yang ditembakkan dari jet-jet tempur itu menewaskan 10 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya. Di antara korban tewas adalah komandan senior kelompok perlawanan tersebut.

Pejabat kesehatan Gaza mengungkap, korban tewas termasuk seorang anak berusia 5 tahun.

Pemimpin Jihad Islam Ziyad Nakhalah mengancam akan membalas serangan dengan meluncurkan roket ke Tel Aviv. Serangan balasan memicu kepanikan di Israel. Suara sirine peringatan serangan meraung-raung di beberapa kota selatan dan tengah.

Stasiun televisi Israel menayangkan sejumlah roket ditembak jatuh sistem pertahanan udara Iron Dome.

Beberapa warga Tel Aviv mengatakan bisa mendengar suara ledakan namun suara sirine tidak menyala.

Sementara itu layanan ambulans Israel menyatakan sejauh ini belum ada laporan korban jiwa dari serangan roket Gaza.

Sementara itu seorang juru bicara militer Israel mengatakan, serangannya menewaskan komandan Jihad Islam Tayseer Al Jaabari dan tak ada korban dari pihaknya.

Perdana Menteri Israel Yair Lapid mengatakan, serangannya mengincar kelompok Jihad Islam, bukan penduduk Gaza.

"Israel melakukan operasi kontraterorisme yang sesuai terhadap ancaman langsung. Apa pun yang diperlukan untuk membela rakyat kami. Pertempuran kami bukan dengan penduduk Gaza. Jihad Islam adalah proksi Iran yang ingin menghancurkan Negara Israel dan membunuh warga Israel yang tidak bersalah," kata Lapid.

Perang terakhir antara pejuang Gaza dan Israel terjadi pada Mei 2021. Pertempuran 11 hari itu menewaskan sedikitnya 250 orang dari warga Gaza dan 13 di Israel.


Editor : Ainun Najib

BERITA TERKAIT