Petugas menunjukkan pasutri tersangka penjual miras oplosan di Polres Sleman, Kamis (19/5/2022). (Foto : ist)
erfan erlin

SLEMAN, iNews.id- Pasangan suami istri (pasutri) asal Prambanan  APS dan FAS menjadi tersangka miras maut di Kapanewon Berbah Sleman. Mereka ternyata telah masuk daftar hitam warga setempat.

Pasasutri ini ternyata hanya pendatang dan mengontrak di salah satu rumah warga. APS tersangka laki-laki selama ini berprofesi serabutan dan tukang rosok. Sementara yang perempuan hanya ibu rumah tangga biasa.

Carik Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Hartoto Wahyudi mengatakan, pasutri ini memang sempat akan diusir warga. Bahkan dua pekan sebelum diringkus polisi karena kasus miras maut, pasangan suami istri ini sempat disidang oleh warga dan tokoh masyarakat setempat.

"Dia dipanggil Dukuh Gangsiran dan tokoh masyarakat. Mereka diperingatkan,"ungkapnya, Jumat (20/5/2022). 

Pasutri ini memang telah cukup lama berjualan miras dan beberapa kali diperingatkan warga. Bahkan mereka pernah secara terbuka dan terang-terangan menjual barang haram tersebut.

Kala itu sering terjadi keributan karena pelanggan mereka ada yang meminumnya langsung di rumah tersebut. Oleh karenanya warga kemudian tidak setuju dengan apa yang dilakukan pasutri ini.

"Dulu pernah jual di rumah bahkan secara terbuka. Sempat ada keributan karena warga tidak setuju, mau diusir," ujarnya.

Karena warga sering merasa terganggu dan sempat terjadi gesekan, sehingga oleh tokoh masyarakat dipertemukan dan terjadi kesepakatan. Dalam kesepakatan tersebut, pasutri ini setuju tidak lagi menjual miras di rumah mereka.

Kala itu, jika mereka masih nekat menjual miras maka warga akan mengusir keduanya. Mereka menandatangani kesepakatan tersebut di hadapan tokoh masyarakat dan juga jaga warga. "Saat itu inginnya warga, kalau mereka tidak mau ya pindah saja," ujarnya. 

Mungkin karena larangan warga tersebut maka mereka kemudian menjalankan usaha produksi dan menjual miras oplosan dengan cara sembunyi-sembunyi.

Informasi yang Totok dapatkan dari tetangga tersangka, APS menjual miras dengan sistem cash on delivery (COD), berkirim pesan lewat aplikasi WhatsApp. Setelah dipesan, minuman keras tersebut langsung diantar ke pemesan.

"Ke depan kami akan mengetatkan pengawasan. Baik kepada warga setempat maupun pendatang di wilayah Madurejo," ujar dia.

Sebelumnya diketahui, tiga warga Sleman meninggal dunia usai mengonsumsi minuman keras oplosan. Ketiganya tewas usai mengonsumsi miras oplosan yang diduga diproduksi oleh APS (43) dan FAS (50). Pasutri ini beralamat di Kalurahan Madurejo.


Editor : Ainun Najib

BERITA TERKAIT