get app
inews
Aa Text
Read Next : Guru Honorer di Lombok Timur Kehilangan Data Dapodik, Diduga gegara Tolak Ajakan Nikah Kepsek

Begini Dilema Belajar Online dan Realita Pendidikan di Pinggiran Gunungkidul

Senin, 31 Agustus 2020 - 11:45:00 WIB
Begini Dilema Belajar Online dan Realita Pendidikan di Pinggiran Gunungkidul
Guru Honorer di Gunungkidul, kunjungi siswanya untuk mengikuti kegiatan belajar. (Foto: iNews.id/Kismaya wibowo)

GUNUNGKIDUL, iNews.id – Masa pandemi Covid-19 berdampak terhadap perubahan di seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, Tak terkecuali dalam dunia pendidikan yang menerapkan belajar dari rumah (BDR). Kebijakan ini justru menyulitkan masyarakat miskin dan wilayah yang tidak ada akses internetnya.

Belajar dari rumah hanya bisa dilakukan dengan menggunakan handphone atau laptop yang terhubung dengan internet. Sejumlah siswa SDN Gunung Gambar, Gunungkidul terpaksa berjalan kaki sejauh 2 kilometer untuk mencari sinyal internet.

“Di sini tidak ada sinyal, jadi harus harus mencari daerah yang ada sinyalnya sejauh dua kilometer,” kata, Nabila Azzahra Sujatmo salah satu siswa SD Gunung Gambar.

Dalam sepekan, Nabila bersama teman-temannya minimal empat kali naik turun perbukitan dan menyusuri areal persawahan. Mereka kemudian akan menumpang di rumah warga untuk bisa membuka hahdphone agar bisa mengakses materi sekolah.

“Memang lelah, tetapi demi dapat nilai baik tidak apa-apa,” katanya.

Kepala SD N Gunung Gambar Purno Jayusman mengatakan, ada 26 siswanya yang terkendala jaringan internet. Sekolah ini berada di Kecamatan Ngawen, namun siswanya berada di Kecamatan Nglipar yang tinggal di atas bukit.

“Ini memang menjadi kendala, apalagi tidak semua siswa memiliki hanphone dan sinyalnya juga susah,” katanya.

Sementara itu, seorang guru honorer di Kecamatan Semin, Gunungkidul Pramesti Utami memilih untuk mengajar dengan mendatangi langsung rumah siswanya. Selain banyak yang tidak memiliki handphone, sinyalnya juga susah.

Meski hanya mendapatkan honor Rp150.000 per bulan, dia mendatangi peserta didik dari rumah ke rumah. Langkah ini diambil untuk memastikan siswanya belajar dan paham dengan materi pelajaran.

“Dengan bertemu langsung dan berinteraksi pendidikan lebih mudah,” katanya.

Salah satu orang tua siswa, Sri Maryanti mengatakan, semenjak penerapan belajar dari rumah dirinya harus menyediakan waktu ekstra untuk mengawasi anaknya yang belajar. Bahkan pekerjaan rumah menjadi terbengkalai, karena waktunya habis.

“Tidak hanya boros untuk beli kuota, pekerjaan rumah juga tidak bisa dikerjakan,” kata Sri Maryanti.

Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 8 Semanu, para siswa dipinjami alat komunikasi berupa handy talkie (HT). Guru akan memberikan materi lewat alat ini, dan diakses siswa secara langsung.

“Jangkauan HT ini lebih luas, dan lebih murah untuk kegiatan belajar siswa daripada dengan internet,” kata Kepala MIN 8 Semanu Laily Fauziah.

Kepala Disdikpora Kabupaten Gunungkidul, Bahron Rosyid mengatakan penerapan belajar dari rumah diserahkan sesuai kebijakan sekolah. Jika dirasa sekolah masuk dalam zona hijau, dapat mencoba untuk menggelar tatap muka meski harus sesuai dengan anjuran dari pemerintah.

Editor: Kuntadi Kuntadi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut