Berharap Covid-19 Berakhir, Perajin Batik Kulonprogo Ciptakan Batik Corona

Kuntadi ยท Sabtu, 23 Mei 2020 - 04:29 WIB
 Berharap Covid-19 Berakhir, Perajin Batik Kulonprogo Ciptakan Batik Corona
Perajin batik di Kulonprogo menciptakan batik bermotif virus corona. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

KULONPROGO, iNews.id - Seorang perajin batik di Kabupaten Kulonprogo, Murtini (45) menciptakan batik motif Corona. Batik tulis bergambar virus ini, berisi harapannya agar pandemi Covid-19 segera berakhir.

“Sekarang adalah saatnya untuk saling bergandeng tangan, melawan Covid-19 agar segera berakhir,” ujar Murtini di Galeri Sembung Batik yang ada di Dusun Sembungan Desa Gulurejo Kecamatan Lendah, Kulonprogo, Jumat (22/5/2020).

Ide pembuatan batik motif muncul sejak kasus Covid-19 muncul di Indonesia. Semakin hari, pemberitaan tentang virus corona ini semakin marak hingga saat ini. Bahkan penderita sudah sampai di perdesaan termasuk di wilayahnya ada yang dinyatakan positif.

Atas keprihatinan ini, Murtini mencoba menuangkan imajinasinya dengan membuat pola pada kain putih. Dari motif ini terus dikembangkan menjadi rangkaian cerita. Awalnya ada virus dengan ukuran besar dengan aneka warna, yang mencolok.

“Tidak ada kesulitan yang berarti, hanya butuh waktu sekitar dua pekan,” ujarnya.

Batik Corona ini, dijual dengan harga Rp350.000 per potong. Setidaknya ada lima pilihan warna sesuai selera konsumen. Dari puluhan yang sudah dicetak, cukup diminati pasar. Tidak hanya pasar lokal, namun sampai di luar daerah.

“Kami juga pasarkan lewat online memanfaatkan media sosial dan responsnya cukup bagus,” ujar pemilik Sembung Batik ini.

Konsumen juga bisa memesan batik bermotif virus corona ini untuk dikombinasikan dengan motif lain atau warna lain. Konsumen pun bisa memilih berbagai jenis batik kontemporer dan tradisional dengan harga mulai Rp150.000 hingga di atas Rp1 juta.

Sementara itu suami Murtini, Sugirin mengatakan, pandemi Covid-19 cukup berdampak bagi pelaku UMKM batik. Namun dirinya tetap bertahan dan melindungi pekerjanya. Mereka tidak ada yang di-PHK atau dirumahkan.

“Sistem kita adalah kekeluargaan, mereka sudah kita anggap keluarga. Kalau kita rumahkan kasihan,” ujarnya.

Beruntung dalam kondisi saat ini, pesanan batik masih terus mengalir. Hanya, jumlahnya tidak seramai tahun lalu menjelang Lebaran.


Editor : Kuntadi Kuntadi