BPPTKG Pantau Merapi Gunakan Helikopter, Begini Hasilnya

Priyo Setyawan ยท Jumat, 27 November 2020 - 17:14:00 WIB
 BPPTKG Pantau Merapi Gunakan Helikopter, Begini Hasilnya
Kepala BPPTKG Hanik Humaida melihat ada potensi ke arah lain guguran erupsi Merapi selain ke Sungai Gendol usai melihat dari udara, Kamis (26/11/2020). (Foto : Dok BNPB)

YOGYAKARTA, iNews.id - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melakukan pemantauan kondisi Gunung Merapi menggunakan helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemantaun itu dilakuka pada Kamis (26/11/2020).

Kepala BPPTKG Hanik Humaida saat melakuan pemantauan itu dirinya menemukan adanya jejak material guguran sisa erupsi Gunung Merapi tahun 1998 di sisi barat yang mengarah ke Sungai Senowo dan Sungai Lamat, serta sisa lava erupsi tahun 1948.

Berdasarkan hasil pengamatan, untuk potensi bahayanya masih mengarah ke Sungai Gendol. Namun juga melihat adanya guguran dari material lama yang ada di kawah-kawah dari sisi luar dan mengarah ke sisi barat sehingga diperkirakan guguran material dari aktivitas Gunung Merapi pada tahun ini juga dapat berpotensi mengarah ke aliran hulu sungai Senowo dan sungai Lamat. Akan tetapi pihaknya belum dapat menentukan secara pasti arah dari alirannya.

“Itu material lama yang jatuh ke arah barat laut yaitu Sungai Senowo dan Sungai Lamat, tapi masih di hulu. Sementara untuk potensi bahaya, arahnya masih ke Sungai Gendol. Tapi melihat guguran juga terjadi di barat laut, maka potensi ke arah itu juga ada. Hanya saja kami masih belum bisa menentukan arah pastinya,” kata Hanik dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/11/2020)

Hanik berharap hasil pengamatan tersebut dapat memberikan gambaran para pengambil kebijakan agar membuat keputusan dengan baik, terutama dalam pengurangan risiko bencana dan penguatan kapasitas lainnya.

Sebagaimana informasi sebelumnya, BPPTKG telah menyampaikan kenaikan status Gunung Merapi menjadi Level III atau Siaga sejak Kamis (5/11/2020). Sejalan dengan hal tersebut, BPPTKG juga menyebutkan bahwa potensi bahaya Gunung Merapi saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik apabila terjadi erupsi eksplosif dan awan panas sejauh maksimal 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

BPTTKG merekomendasikan Pemkab Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

Guna mengantisipasi dan mengurangi risiko bencana yang dapat ditimbulkan dari aktivitas Gunung Merapi tersebut, merekomendasi kegiatan penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III agar dihentikan.

Termasuk mengimbau kepada para pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi, termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

“Pemkab Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat,” ujarnya.

Editor : Ainun Najib

Halaman : 1 2