Melihat Prosesi Dhutanga, Ritual Jalan Kaki Umat Buddha dari Candi Mendut ke Borobudur
Rangkaian Pabbajja terdiri dari bermeditasi, mengikuti puja bakti, mengikuti pendidikan dengan penekanan keyakinan kepada Buddha, Dhamma, Sangha, dan lainnya. Dalam kesehariannya pun, para samanera wajib mematuhi 10 Aturan kemoralan, 75 etika dan berbagai aturan lainnya.
10 aturan kemoralan utama terdiri dari, tidak membunuh, tidak bermain musik, tidak menari, tidak menggunakan bunga, tidak berbohong, tidak mencuri, tidak makan setelah tengah hari, hingga tidak menerima emas, perak ataupun uang.
Ritual Pabbajja Samanera dan Atthasilani kerap dilakukan selama 10 atau 14 hari. Kegiatan ritual ini bertujuan agar para peserta lebih agamis, toleransi, memiliki budi pekerti yang tinggi, memiliki nilai moral yang tinggi juga berpengetahuan luas.
Ketua Panitia Penyelenggara Fatmawati mengatakan, Dutangga adalah prosesi jalan bermeditasi merenungkan sifat-sifat luhur dari Sang Buddha Gautama. Ritual ini dilakukan dengan berjalan dari Candi Mendut ke Candi Pawon dan dilanjutkan ke Candi Borobudur. "Prosesi ini berlangsung pada Sabtu (24/12/2022) lalu," tutur dia.
Prosesi Dhutanga sendiri merupakan rangkaian akhir dari kegiatan Pabbajja Samanera, dimana melakukan kegiatan prosesi meditasi sambil berjalan kaki. Prosesi Tudong diakhiri dengan tabur bunga yang harum dan wangi oleh umat, kepada semua peserta Palawija Samanera.
Melalui prosesi Dutangga atau Tudong, Fatmawati berharap para Pabbajja Samanera mendapatkan pencerahan. Karena semua Samanera yang telah mengikuti semoga mendapatkan pencerahan di dalam hati dan batin mereka meningkatnya keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha.
"Tak hanya itu kami juga berharap agar peserta juga mendapatkan pelajaran sebagai seorang murid Sang Buddha agar dapat merefleksikan sifat-sifat luhur dari Sang Buddha,"terangnya.
Editor: Ainun Najib