Upacara Saparan Bekakak, Tradisi Masyarakat Ambarketawang Sleman Penuh Pengorbanan

Kuntadi ยท Minggu, 04 Desember 2022 - 20:53:00 WIB
Upacara Saparan Bekakak, Tradisi Masyarakat Ambarketawang Sleman Penuh Pengorbanan
Prosesi penyembelihan boneka pengantin dari tepung beras dan ketan dalam Upacara Saparan Bekakak. (foto: antara)

SLEMAN, iNews.id - Upacara Saparan Bekakak merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan masyarakat Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Sleman. Tradisi ini menjadi upacara selamatan yang dilaksanakan setiap bulan Sapar pada penangggalan Jawa. 

Upacara Saparan Bekakak dilaksanakan di Gunung Gamping sejak tahun 1755 atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono I untuk mengenang abdi dalemnya yang ditemukan mati di gunung gamping. Saparan Bekakak berarti upacara penyembelihan hewan atau manusia. Bekakak pada saparan ini hanya tiruan manusia yang berujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.

Tradisi ini dilaksanakan mirip dengan hajatan pernikahan, karena ada malam midodareni yang bermakna turunnya bidadari. Selain itu juga ada kirab, penyembelihan pengantin bekakak dan Sugengan Ageng.  

Upacara Saparan Bekakak bertujuan untuk menghormati arwah Kiai dan Nyai Wirosuto dan keluargaya. Kiai Wirosuto adalah abdi dalem yang memayungi Sri Sultan Hamengku Buwana I saat tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang. Bersama keluarganya ia tetap tinggal di Gamping dan tidak ikut pindah ke keraton, yang dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping.

Upacara Saparan Bekakak dilaksanakan setiap hari Jumat pada bulan Sapar antara tanggal 10-20. Kirab pengantin dilaksanakan pukul 14.00 WIB, sedangkan penyembelihan bekakak pukul 16.00 WIB. 

Tradisi ini diawali dengan pembuatan bekakak dari tepung ketan dan membuat juruh dengan diiringi gejong lesung memainkan tembang kebogiro, thong-thongsot, dhengthek, wayangan, kutut manggung dan lain-lain. Setelah penumbukan beras telah selesai, dilanjutkan pembuatan bekakak, gendruwo, kembar mayang, dan aneka sesaji. 

Ada dua pasang pengantin yang dibuat. Satu pasang bergaya Solo dan sepasang lainnya bergaya Yogyakarta.  

Editor : Kuntadi Kuntadi

Halaman : 1 2

Follow Berita iNewsYogya di Google News

Bagikan Artikel: