Rusia siap menghentikan operasi militer khusus dengan syarat Ukraina melaksanakan syarat-syarat yang diajukan. (Foto: Reuters)
Umaya Khusniah

LONDON, iNews.id - Pemerintah Rusia siap mengehentikan operasi militer khusus di Ukraina. Syaratnya Ukraina mau memenuhi empat syarat yang diajukan Moskow. 

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dikutip dari Reuters pada Senin (7/3/2022) mengatakan, setidaknya ada empat syarat yang harus dipenuhi Ukraina. 

1. Ukraina menghentikan aksi militer. 

2. Ukraina mengubah konstitusinya untuk mengabadikan netralitas. 

3. Ukraina mengakui Krimea sebagai wilayah Rusia. 

4. Ukraina mengakui republik separatis Donetsk dan Lugansk sebagai negara merdeka.

Itu merupakan pernyataan Rusia yang paling eksplisit mengenai persyaratan yang harus dipenuhi Ukraina agar mereka menghentikan apa yang disebutnya sebagai operasi militer khusus. Hingga Senin kemarin, terhitung operasi militer memasuki hari ke-13.

Peskov mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara lewat telepon, Ukraina sudah mengetahui kondisi tersebut. Atas persyaratan tersebut, Ukraina tidak langsung memberikan reaksi.

"Mereka diberitahu bahwa semua ini bisa dihentikan dalam sekejap," kata Peskov.

Diketahui, Rusia telah menyerang Ukraina dari utara, timur dan selatan, menggempur kota-kota termasuk Kyiv, Kharkiv dan pelabuhan Mariupol. Invasi sejak  24 Februari itu telah menyebabkan krisis pengungsi terburuk di Eropa sejak Perang Dunia Kedua, memicu kemarahan di seluruh dunia dan menyebabkan Rusia mendapat sanksi berat dari berbagai negara.

Peskov bersikeras, Rusia tidak berusaha untuk membuat klaim teritorial lebih lanjut di Ukraina.Tidak benar bahwa Rusia menuntut agar Kyiv, ibu kota Ukraina, diserahkan.

"Kami benar-benar menyelesaikan demiliterisasi Ukraina. Kami akan menyelesaikannya. Tetapi yang utama adalah Ukraina menghentikan aksi militernya. Mereka harus menghentikan aksi militer mereka dan kemudian tidak ada yang akan menembak," katanya.

Peskov juga mengomentari terkait masalah netralitas. Ukraina harus membuat amandemen konstitusi yang menyebutkan mereka akan menolak setiap tujuan untuk memasuki blok mana pun.

"Kami juga telah berbicara tentang bagaimana mereka harus mengakui bahwa Krimea adalah wilayah Rusia dan bahwa mereka perlu mengakui bahwa Donetsk dan Lugansk adalah negara merdeka. Hanya itu. Itu akan berhenti sebentar lagi," katanya.

Tuntutan jelang Putaran Tiga

Garis besar dari tuntutan dan persyararan Rusia ini disampaikan menjelang persiapan delegasi dari Rusia dan Ukraina untuk bertemu untuk pembicaraan putaran ketiga, pada Senin kemarin. Tujuannya untuk mengakhiri perang Rusia melawan Ukraina. Namun, hasil putaran ketiga ini tidak bisa memperbaiki situasi secara signifikan. 

Tuntutan ini juga berawal dari setelah Putin mengakui dua wilayah yang memisahkan diri di Ukraina timur. Separatis yang didukung Rusia itu telah memerangi pasukan pemerintah Ukraina sejak 2014, sebagai wilayah independen. Barat mengecam tindakan ini karena dinilai ilegal.

"Ini bukan kami yang merebut Lugansk dan Donetsk dari Ukraina. Donetsk dan Lugansk tidak ingin menjadi bagian dari Ukraina. Tapi bukan berarti mereka harus dihancurkan sebagai hasilnya," kata Peskov.

"Selebihnya, Ukraina adalah negara merdeka yang akan hidup seperti yang diinginkannya, tetapi dalam kondisi netralitas."

Dia mengatakan semua tuntutan telah dirumuskan dan diserahkan selama dua putaran pertama pembicaraan antara delegasi Rusia dan Ukraina yang berlangsung pekan lalu.

"Kami berharap semua ini akan berjalan baik dan mereka akan bereaksi dengan cara yang sesuai," kata Peskov.

Menurut Peskov, Rusia telah dipaksa untuk mengambil tindakan tegas untuk memaksa demiliterisasi Ukraina, daripada hanya mengakui kemerdekaan daerah yang memisahkan diri.

Rusia beralasan, ini untuk melindungi 3 juta penduduk berbahasa Rusia di republik-republik ini yang sedang diancam oleh 100.000 tentara Ukraina.

"Kami tidak bisa begitu saja mengenali mereka. Apa yang akan kami lakukan dengan 100.000 tentara yang berdiri di perbatasan Donetsk dan Lugansk yang dapat menyerang kapan saja. Mereka selalu membawa senjata AS dan Inggris," katanya.

Menjelang invasi Rusia, Ukraina berulang kali dan dengan tegas menyangkal pernyataan Moskow bahwa pihaknya akan melakukan serangan untuk merebut kembali wilayah separatis dengan paksa.

Peskov mengatakan situasi di Ukraina telah menimbulkan ancaman yang jauh lebih besar bagi keamanan Rusia daripada yang terjadi pada tahun 2014. Ketika itu, Rusia juga telah mengumpulkan 150.000 tentara di perbatasannya dengan Ukraina, memicu kekhawatiran akan invasi Rusia, tetapi membatasi tindakannya pada pencaplokan wilayah Krimea.

“Sejak itu situasinya memburuk bagi kami. Pada 2014, mereka mulai memasok senjata ke Ukraina dan mempersiapkan tentara untuk NATO, membawanya sesuai dengan standar NATO,” katanya.

"Pada akhirnya yang menjadi keseimbangan adalah kehidupan 3 juta orang di Donbass ini. Kami mengerti bahwa mereka akan diserang."

Peskov mengatakan Rusia juga harus bertindak dalam menghadapi ancaman yang dirasakannya dari NATO. Menurutnya, hanya masalah waktu sebelum aliansi itu menempatkan rudal di Ukraina seperti yang terjadi di Polandia dan Rumania.

"Kami baru mengerti bahwa kami tidak tahan dengan ini lagi. Kami harus bertindak," katanya.


Editor : Ainun Najib

BERITA TERKAIT