Jejak Sunan Geseng di Blumbang Banyuurip, Jati Kluwih dan Watu Golong

Ainun Najib ยท Sabtu, 20 November 2021 - 09:27:00 WIB
Jejak Sunan Geseng di Blumbang Banyuurip, Jati Kluwih dan Watu Golong
Pohon Jati Kluwih berada di Dusun Loputih, Jatimulyo, Dlingo Bantul. Pohon ini unik, batangnya pohon jati namun daunnya berbentuk daun kluwih. (Foto : Dok Sindonews/Ainun Najib))

BANTUL, iNews.id -Wilayah, Dlingo, Bantul saat ini menjadi salah satu tujuan wisata di Yogyakarta. Selain hutan pinusnya yang terkenal, kawasan ini juga menyimpan potensi wisata religi

Legenda penyebaran agama Islam oleh Sunan Geseng alias Jebeng Cokro Joyo sangat melekat dengan daerah ini. Cerita ini menyebar turun temurun. Di Dusun Banyuurip, Jatimulyo, Dlingo, Bantul terdapat mata air yang konon sangat erat kaitanya dengan kisah Sunan Geseng ini.

Lokasinya sekitar 1,5 kilometer arah timur Balai Desa Jatimulyo. Di malam-malam tertentu, seperti malam 1 Sura, Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon lokasi ini selalu ramai dikunjungi masyarakat. Sejumlah tokoh nasional konon dikabarkan juga mendatangi lokasi ini. Mantan petinggi salah satu institusi keamanan di negeri ini kabarnya juga pernah datang ke lokasi ini.

“Di Dusun Banyuurip ada dua tempat yang dipercaya masyarakat setempat terkait  kisah Jebeng Cokro Joyo atau Sunan Geseng,” kata Syafruddin Tamar (40), pemuda setempat yang sehari-hari merawat Blumbang Banyuurip atau Sumber Penguripan. Di Blumbang Banyuurip ini konon Sunan Geseng diberi minum oleh Sunan Kalijogo. 

Menurut Tamar, Blumbang Banyuurip ini lokasinya sekitar 500 meter ke arah timur dari Sendang Banyuurip yang biasa dikunjungi masyarakat. "Sebenarnya sumber penguripan yang asli berada di sebuah sumur yang lokasinya dekat dengan sungai, bukan yang di sebelah barat," katanya, Sabtu (20/11/2021).

Syafruddin menceritakan, pada zaman dahulu di daerah Bagelan, Purworejo, ada pemuda bernama Jebeng Cokro Joyo. Anak petani ini sehari-harinya bekerja sebagai penderes gula kelapa. Sambil bekerja, dia sering beryanyi tembang-tembang Jawa. Suatu hari, saat Jebeng Cokro Joyo menyanyikan tembang Jawa sambil menderes pohon kelapa, lewatlah Sunan Kalijaga. Dia sangat tertarik dengan nyanyian Jebeng Cokro Joyo.

”Lalu Sunan Kalijaga berhenti, menunggu Cokro Joyo turun dari pohon. Tak berapa lama, terjadi diskusi di antara keduanya. Jebeng Cokro Joyo pun kemudian diangkat menjadi murid oleh Sunan Kalijogo,” kata Tamar.

Sunan Kalijaga banyak memberi petuah tentang agama Islam kepada murid barunya itu. Jebeng Cokro Joyo mendengarkan dengan seksama. Karena sangat tertarik dengan petuah petuah Sunan Kalijaga, Jebeng Cokro Joyo kemudian meminta izin Sunan Kalijaga untuk ikut berkelana sambil menimba ilmu. Sunan Kalijaga pun memperbolehkan. Mereka berdua segera berjalan ke arah timur dan sampailah mereka di suatu tempat.

Editor : Ainun Najib

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: