Kisah Mantan Danjen Kopassus saat Basmi Perusuh di Konflik Ambon

Sindonews, Sucipto · Jumat, 28 Januari 2022 - 11:27:00 WIB
 Kisah Mantan Danjen Kopassus saat Basmi Perusuh di Konflik Ambon
Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa bersama warga Kampung Mokwam, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) memiliki kemampuan di atas rata-rata. Setiap tugas yang dibebankan akan selalu diselesaikan dengan sebaik-baiknya oleh para prajurit Baret Merah ini.

Inilah yang juga dilakukan oleh mantan orang nomor satu di pasukan elite TNI AD, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa saat mendapat tugas meredam konflik berkepanjangan di Ambon, Maluku pada 2001 silam. Peraih Adhi Makayasa yang kini menjabat sebagai Pangdam XVIII/Kasuari itupun berhasil melaksanakan tugasnya dengan gemilang.

Berawal pada 5 Januari 2001 tim Kopassus, bersama-sama Marinir dan Paskhas dalam satuan tugas gabungan Komando Sektor (Kosektor)-1/ gabungan TNI Maluku/Maluku Utara yang dipimpin Asisten Intelijen Danjen Kopassus Kolonel N.G Sugihartha, berangkat ke Ambon setelah mendapat perintah tugas mendadak pada tanggal 1 Januari 2001

Wakil Asisten Intelijen Danjen Kopassus Letkol I Nyoman Cantiasa (waktu itu berpangkat kapten) yang menjadi anggota tim Kosektor-1 melihat bagaimana warga kehilangan nyawa saat berjalan diruang terbuka akibat gangguan para “sniper” yang disebar oleh pihak bertikai digedung - gedung kosong untuk menteror kota Ambon. 

Setiap hari ada laporan warga dari dua komunitas yang mengadukan kerabatnya menjadi korban sniper terus masuk. Situasi bertambah parah setelah kelompok separatis Republik Maluku Selatan (RMS) dan milisi luar Ambon terutama dari Pulau Jawa ikut memperkeruh suasana disertai pasokan senjata dan bahan peledak yang juga membanjiri dari luar Maluku dan dari luar negeri. 

Maraknya peredaran senjata organik dipicu oleh pembobolan gudang senjata Polri di Desa Tantui semasa konflik 1999 - 2000. 

Kelompok bertikai menjebol lalu menjarah gudang senjata beserta amunisinya. Sekurangnya 900 pucuk senapan dan pistol serta granat tangan raib dari gudang. Yang lebih mengerikan lagi, saat sweeping ke daerah perusuh, ditemukan bom rakitan seukuran televise 17 inch. Bayangkan bila bom digunakan untuk menyerang keramaian masyarakat.

Editor : Ainun Najib

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: